Default Risk, Risiko Obligasi yang Perlu Kamu Tahu

Risiko obligasi itu ada.
Risiko obligasi itu ada.

Kondisi perekonomian yang belum stabil membuat obligasi semakin digemari masyarakat. Soalnya orang bilang instrumen investasi ini relatif lebih aman.

Enggak percaya? Bagus deh kalau enggak percaya. Sebab sejatinya investasi itu tidak tanpa risiko. Hanya saja obligasi ini risikonya memang lebih rendah dibanding instrumen lain.

Nah, buat kamu yang belum tahu, salah satu risiko dari obligasi adalah default risk, yakni kondisi ketika perusahaan atau penjual obligasi tidak bisa membayar pinjaman. Biasanya gagal bayar ini ini terjadi karena perusahaan mengalami bangkrut atau kerugian yang besar.

Itulah mengapa sebelum berinvestasi obligasi, kamu wajib melihat portofolio dari perusahaan atau korporasi yang ingin kamu beli obligasi atau surat utangnya. Ingat, jatuh tempo obligasi ini biasanya panjang, jadi kamu pertimbangkan juga bagaimana kira-kira kondisi perusahaan dalam rentang waktu tersebut. Jika ragu, kamu bisa melirik obligasi lain deh.

Jenis obligasi sendiri ada tiga, obligasi korporasi, obligasi negara, dan obligasi daerah. Nah, obligasi negara juga ada macam-macam seperti ada ORI (Obligasi Negara Ritel Indonesia), SBR (Saving Bond Ritel), ST (Sukuk Tabungan), SR (Sukuk Ritel), dan lain-lain.

Obligasi negara atau yang biasa disebut obligasi ritel atau Surat Utang Negara ini dilindungi UU No.24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara dan UU No.19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara. Jadi uang kamu memang relatif lebih aman.

Biasanya masing-masing jenis surat utang negara terbit setiap setahun sekali. Sudah cek ada seri apa saja yang terbit tahun ini? Cek di sini.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.