Haruskah Percaya Sepenuhnya pada Manajer Investasi untuk Kelola Uang Kita?

investasi
investasi

Tak semua orang memiliki pengetahuan mengenai investasi yang mumpuni. Ada yang hanya sekadar tahu kulitnya, ada pula yang paham seluk beluknya. Kondisi semacam ini akhirnya membuat manajer investasi atau perencana keuangan menjadi pilihan banyak orang untuk membantu mengelola uang.

Seperti diketahui, perencana keuangan bertugas melakukan alokasi dana yang kamu miliki. Sedangkan manajer investasi, menurut situs literasi keuangan QM Financial, bertugas mengurus dana investor yang sudah terkumpul untuk ditempatkan ke berbagai instrumen investasi.

Manajer investasi ini akan mengamati pergerakan pasar dengan bantuan Research Analyst. Kemudian, manajer investasi akan menyusun strategi investasi yang tepat demi mencapai target hasil investasi yang diinginkan. Contoh produk yang dikelola manajer investasi adalah reksa dana.

Dalam hal ini, perencana keuangan akan membuat asumsi target hasil investasi rata-rata untuk memperkirakan besar investasi yang perlu dilakukan investor. Perencana keuangan juga harus melakukan pengawasan atas kinerja reksa dana agar bisa dipakai dalam sebuah rencana keuangan.

Singkatnya, perencana keuangan adalah seorang perencana. Sementara, manajer investasi adalah eksekutornya.

Lalu, haruskah mempercayai manajer investasi secara sepenuhnya untuk mengelola uang kita?

Ahli investasi AXA Mandiri Edhi Santoso Widjojo menyarankan untuk tidak 100% percaya pada manajer investasi. "Kita harus harus tahu profil investasi kita, termasuk investor agresif, konservatif atau defensif. Karena, seorang manajer hanya akan memutuskan investasi yang untungnya paling besar untuk mereka," ujar Edhi seperti dikutip Marketeers.

Oleh karenanya, kamu harus mulai memahami dan mengerti kondisi ekonomi negara dan global secara luas. Faktor seperti nilai tukar rupiah terhadap dolar, suku bunga Indonesia dan dunia serta kondisi ekonomi dalam negeri juga harus kamu pahami.

Edhi juga mengatakan, pahami juga bahwa kondisi tersebut umumnya bersifat sementara. "Sebab itu, investor harus memiliki diversifikasi instrumen investasi. Tujuannya, saat satu investasi sedang turun, investasi yang lain bisa meningkat. Makin beragam investasi, risiko semakin rendah," pungkas Edhi.

MORE FROM MY SITE