Jangan Pernah Investasi Saham Kalau Kamu...

Ilustrasi
Ilustrasi

Topik investasi sedang hangat dibicarakan di kalangan generasi milenial dan generasi Z. Salah satu instrumen yang banyak dibahas adalah saham.

Sejak beberapa tahun lalu, Bursa Efek Indonesia (BEI) menggalakan gerakan ‘Yuk, Nabung Saham’ yang ternyata mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, baik dari investor maupun lembaga keuangan.

Buktinya, berdasarkan catatan BEI, per Mei 2019 jumlah investor pasar modal Indonesia menembus 1,9 juta. Bukan jumlah yang sedikit, kan? Jumlah ini tentu akan terus bertambah seiring dengan makin meleknya masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, terhadap kesadaran berinvestasi.

Nah, buat kamu yang berencana berinvestasi, sebaiknya jangan pernah berpikiran untuk terjun ke saham kalau kamu ternyata masih memiliki sifat berikut.

Malas membaca

Membeli saham suatu perusahaan artinya kamu akan berubah status sebagai pemilik perusahaan tersebut. Untuk itu, sebelum membeli saham suatu perusahaan, pastikan kamu membaca dan mencari tahu perusahaan tersebut.

Pastikan perusahaan tersebut sehat dan juga bisa diprediksi masih bisa beroperasi setidaknya dalam jangka 5 tahun ke depan. Jangan membeli saham hanya karena mendengar bisikan orang tertentu. Wajib hukumnya bagi calon pemilik saham untuk rutin membaca berita perkembangan terbaru dari perusahaan yang dimilikinya.

Pengin cuan instan

Penting kamu catat bahwa investasi saham adalah investasi jangka panjang, setidaknya 5 tahun. Jadi, buat kamu yang pengin dapat cuan instan, dalam hitungan 1-2 tahun atau mungkin bulan misalnya, buang jauh-jauh pikiran untuk menanamkan uangmu pada investasi saham.

Kecuali kamu seorang trader, perlu jangka waktu tertentu agar kamu bisa mendapatkan keuntungan.

Belum punya dana darurat

Sebelum investasi saham, pastikan kamu memiliki pos dana darurat lebih dulu. Pastikan uang yang kamu gunakan untuk investasi saham adalah ‘uang dingin’, artinya jika uang tersebut tidak ada pada saat itu maka kegiatan operasionalmu tidak akan terganggu. Ingat, perlu waktu lama untuk bisa mendapatkan keuntungan di saham.

Gampang panik

Investasi di saham bukan hanya perkara membaca laporan keuangan dan mencari tahu informasi detail tentang suatu perusahaan. Lebih jauh diperlukan kondisi mental yang tenang dan sabar supaya kamu tidak gampang panik melihat kondisi pasar dan ekonomi yang fluktuatif, terlebih melihat kondisi ekonomi nasional dan global yang tidak menentu seperti saat ini.

Biasanya, mental baja seperti ini yang belum dimiliki newbie di dunia saham. Alhasil, ketika melihat kondisi pasar turun dan merah selama beberapa hari berturut-turut, mereka panik dan menarik uang yang ada di saham tanpa pikir panjang.

Dalam berinvestasi, panik itu wajar, tapi kamu perlu ingat sekali lagi bahwa saham adalah investasi jangka panjang. Jadi, berikan waktu bagi uangmu supaya bisa berkembang dan kamu pun bisa mendulang cuan.

Kalau investor asing saja masih percaya pada iklim investasi di Indonesia, masa kamu enggak?