Masih Takut Buat Investasi? Ini Triknya Biar Investasi Aman, Nyaman, dan Gampang

Ilustrasi investasi aman dan nyaman.
Ilustrasi investasi aman dan nyaman.

Investasi kini sudah makin lumrah di kalangan milenial. Kamu pasti pernah dengar teman atau kerabat lagi membicarakan investasi jenis reksa dana, emas, obligasi, deposito, saham, dan sebagainya, kan?

Namun bagi sebagian anak muda, investasi adalah hal menakutkan sehingga mereka tak berani mencoba. Mulai dari risiko rugi, uang gagal balik, hingga ancaman investasi bodong. Padahal, investasi bisa aman dan nyaman, asal kita tahu kiat aman berinvestasi.

Hal ini turut jadi pembahasan dalam acara bincang virtual Smart Talk bertajuk Investasi di Rumah Aja yang diadakan Smart-money.co, Welma, dan Bakti BCA pada Selasa (20/10/2020) dengan narasumber travel blogger, Kadek Arini, dan Eri Kusnadi, Head of Mutual Fund Distribution PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen.

Menurut Kadek, yang pertama dilakukan sebelum memilih investasi adalah mengetahui profil risiko diri sendiri sebagai investor. “Waktu awal aku berinvestasi, yang aku lihat adalah profile risk aku. Ternyata, aku ini tipe medium to low risk,” ungkap Kadek.

Profil risiko berperan dalam menentukan seberapa besar risiko yang bisa kamu tanggung. Kamu bisa mengambil tes untuk mengetahui profil risiko ini di perusahaan manajer investasi.

Singkatnya, dalam berinvestasi, biasanya instrumen yang berpotensi cuan tinggi punya risiko yang juga tinggi. Demikian pula sebaliknya, instrumen dengan risiko kecil juga punya potensi cuan kecil. “High risk high return, low risk low return,” ujar Kadek.

Dari situ, apa yang kira-kira kamu inginkan dalam berinvestasi, juga tujuan keuangan seperti apa yang kamu inginkan?

Soal ini, Eri Kusnadi menjawab, “Kalau kita mau invest jangka panjang, kita bisa ambil produk yang berisiko tinggi. Justru kalau jangka pendek, jangan ambil yang high risk. Yang penting kita tahu risk profile masing-masing.

Setelah mengetahui profil risiko, jangan terburu-buru berinvestasi. Kenali dulu tempat kamu bakal beli instrumen investasi. “Sudah terdaftar OJK (Otorisasi Jasa Keuangan) belum? Bagaimana tingkat kredibilitasnya?” ungkap Kadek.

Jangan percaya begitu saja brosur atau klaim perusahaan bahwa mereka terdaftar di OJK. Kamu bisa mengecek sendiri di situs resmi OJK, apakah mereka benar-benar terdaftar atau tidak. Kalau tidak, harap waspada. Bisa jadi mereka adalah oknum penipu alias investasi bodong.

“Segala sesuatu yg berhubungan dengan uang memang agak sulit. Ada godaan dari internal seperti serakah. Dari sisi yang menawari investasi, selalu saja ada yang berniat ngerjain,” ujar Eri.

Eri menambahkan, “Untungnya, industri keuangan itu industri yang regulasinya paling banyak. Kalau urusannya sudah hitam di atas putih, itu paling gampang.

Itulah pentingnya cek dan ricek sebuah perusahaan investasi di OJK. Meski begitu, kamu tetap harus waspada. Ada beberapa loophole dalam hukum yang bisa saja dimanfaatkan oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Yang susah itu yang abu-abu. Mereka mungkin tidak melanggar peraturan, tapi mungkin melanggar etika. Misalnya, mereka sudah resmi, tapi dalam ber-invest terlalu agresif dan kurang bijaksana. Jadi kalau ada apa-apa, kita tidak bisa complain,” jelas Eri.

Untuk mengenalinya, Eri berharap investor bisa lebih cermat. Ini kembali lagi ke poin high risk high return, low risk low return yang dibahas di awal diskusi.

“Jangan terbujuk return yang tinggi. Semua return yang tinggi, pasti risikonya juga tinggi. Jika tidak, kita harus curiga. Kita harus membentengi diri,” jelas Eri.

Jadi, intinya bagaimana agar investasi kita aman dan sukses? “Kuncinya adalah sabar dan disiplin. Habit-nya yang paling penting,” jawab Eri. Kadek menambahkan, “Jangan malas untuk belajar dan mencari tahu.”

Nah, kamu sendiri bagaimana? Sudah mulai berinvestasi belum? Jangan ragu untuk memulainya, karena investasi sekarang gampang banget. Dengan adanya aplikasi Welma kamu bisa berinvestasi lewat HP, kapan saja dan di mana saja.

Yuk kenalan sama Welma.

Konten Pemasaran

Tim Beritagar.id khusus untuk konten pemasaran