Pengertian Investasi Syariah dan Jenis-jenisnya untuk Pemula

Salah satu perbankan syariah di Indonesia.
Salah satu perbankan syariah di Indonesia.

Investasi syariah merupakan jenis investasi yang dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip dan hukum Islam. Sifatnya yang bebas riba (tambahan imbalan), gharar (ketidakpastian), dan maysir (perjudian) membuat banyak orang mulai melirik investasi ini.

Sistem akad-akadnya seperti kerja sama, sewa, dan bagi hasil juga semakin membuat orang percaya tidak akan dirugikan. Terlebih investasi syariah di Indonesia juga sudah terawasi dengan baik oleh tiga lembaga sekaligus, yakni Otoritas Jasa Keuangan, Majelis Ulama Indonesia, dan Dewan Pengawas Syariah atau Dewan Syariah Nasional.

Beda Investasi Syariah dengan Konvensional

Meski tidak terlalu signifikan, tetap ada perbedaan antara investasi syariah dengan konvensional. Misalnya soal tujuan investasi. Untuk konvensional, tujuan investasinya adalah mencari untung, pendapatan pasif, dan menambah aset yang bisa diambil di kemudian hari.

Sedangkan investasi syariah, selain untuk mendapatkan keuntungan, ada tujuan yang lebih mengarah ke aspek sosial. Soalnya keuntungan yang didapat dari investasinya, tidak semuanya diberikan ke investor atau pengelola investasi, melainkan digunakan sebagian untuk keperluan sedekah atau membantu sesama.

Ada beberapa jenis investasi syariah. Namun secara umum ada lima yang paling layak kamu tahu sebagai pemula. Apa saja dan seperti apa kelima jenis investasi syariah tersebut? Yuk simak.

Jenis-jenis Investasi Syariah untuk Pemula

1. Deposito Syariah

Jenis investasi syariah ini mirip dengan tabungan berjangka, tapi dengan prinsip mudharabah atau bagi hasil. Prinsip bagi hasilnya sendiri sudah disepakati sejak awal sehingga jelas dan bebas gharar.

Dalam deposito syariah, nasabah merupakan shahibul maal atau pemilik dana. Sedangkan bank adalah mudharib atau pengelola dana. Mudharib mendapat kewenangan penuh mengelola dana shahibul maal, namun tetap bersifat halal dan sesuai dengan prinsip syariah.

Lantaran mudharabah, ambil contoh dalam akad bagi hasil ditentukan 60-40. Nasabah menaruh dana Rp1 juta. Di akhir jangka waktu tertentu, investasinya jadi Rp10 juta. Maka sesuai kesepakatan, nasabah mendapat Rp6 juta, sedangkan bank Rp4 juta.

2. Sukuk Ritel

Investasi ini biasanya ditawarkan pemerintah pada periode tertentu setiap tahunnya. Meski sukuk berarti surat utang (obligasi), tapi yang ini bersifat syariah karena ketika kita membelinya sama saja kita sedang membeli aset negara.

Sebab dalam sukuk ritel, dana yang ditanam nasabah biasanya memang untuk membangun proyek-proyek yang sudah disusun dalam anggaran pendapatan belanja negara. Jadi secara tidak langsung, kamu sudah berkontribusi untuk negara.

Investasi ini menggunakan akad wakalah dan ijarah. Jadi aset yang kita beli tadi disewakan kembali pada pemerintah dengan memberikan imbal hasil berupa uang sewa (ujrah) dengan persentase tertentu, sampai masa sewanya habis.

Jadi keuntungan yang didapat pun bisa bervariasi. Namun jika dibandingkan dengan suku bunga deposito, sukuk ritel biasanya lebih menguntungkan. Imbal hasilnya sendiri akan ditransfer secara rutin ke rekening kita.

3. Reksa Dana Syariah

Reksa Dana Syariah ini juga jadi favorit para pemula. Pasalnya, nasabah tinggal menyerahkan dana ke bank, kemudian diteruskan ke manajer investasi yang sudah ahli. Para manajer investasi ini lalu mengelola dana kita ke produk investasi syariah.

Produk investasi seperti apa? Ya seperti saham perusahaan yang operasionalnya sesuai syariat Islam seperti pemeliharaan hewan kurban dan lain-lain.

Selain itu, investasi ini diminati karena tidak terlalu butuh modal besar. Jadi kalau deposito dan Sukuk ritel tadi kita perlu paling tidak jutaan rupiah, reksa dana syariah ini bisa dimulai dengan ratusan ribu saja.

4. Saham Syariah

Saham syariah adalah efek atau surat berharga yang punya konsep penyertaan modal dengan hak bagi hasil usaha yang produk dan pengelolaannya tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Jadi sederhananya, saham yang terdaftar adalah saham perusahaan yang produknya dinyatakan halal oleh MUI, seperti tidak mengandung minuman keras dan barang haram lainnya.

Bedanya dengan investasi yang lain, risiko saham syariah tentu lebih tinggi, namun dengan potensi imbal yang tinggi juga. Daftar emiten-emiten saham Syariah bisa kamu lihat seperti di Jakarta Islamic Index. Namun untuk melihat emiten dengan saham paling likuid di BEI ada di Saham Syariah JII70.

Saham-saham di JII70 ini sudah melalui seleksi syariah yang ketat. Misalnya tercatat masuk dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) selama 6 bulan terakhir; punya urutan kapitalisasi pasar yang bagus, serta punya nilai transaksi harian di pasar reguler yang juga bagus.

5. Emas

Beda dengan lainnya, investasi ini ada benda nyatanya, yaitu emas atau logam mulia. Status syariah dari emas memang masih diperdebatkan. Soalnya di beberapa negara emas ada yang masih dijadikan mata uang, sehingga kalau diperjualbelikan bertentangan dengan hukum syariah. Tetapi di Indonesia, emas bukan alat tukar, melainkan komoditi sehingga boleh diperjualbelikan.

Saat ini, berinvestasi emas sudah sangat mudah. Bisa di perusahaan resmi, pegadaian, ataupun di e-commerce dan marketplace yang terpercaya. Asyik, kan?

Itu tadi lima jenis investasi syariah yang layak kamu pertimbangkan sebagai pemula. Tak perlu langsung berinvestasi yang besar. Asalkan konsisten, kelak semuanya akan berguna untuk masa depan kita. Apalagi sekarang informasi terkait investasi sudah jauh lebih mudah didapatkan. Jadi tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Yuk mulai investasi.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.