Reksa Dana Tetap Cocok ketika Ekonomi Loyo?

Investasi apa yang cocok saat ekonomi loyo?
Investasi apa yang cocok saat ekonomi loyo?

Perkembangan ekonomi saat ini membuat banyak orang berpikir dua kali untuk berinvestasi. Adanya pandemi juga mendesak mereka memilih menyimpan dana tunainya.

Namun seiring waktu, sinyal-sinyal kebangkitan sudah mulai tampak. Survei dari Inventure pun menunjukkan 64 persen responden optimistis krisis akan berakhir.

Beberapa lalu mulai berinvestasi lagi. Namun tidak sedikit juga yang masih ragu karena menganggap perekonomian belum pulih.

Nah, pertanyaannya, apakah investasi masih aman dilakukan saat kondisi masih seperti sekarang? Jawabannya, tentu saja masih aman, selama kamu mampu memilih instrumen investasi apa yang tepat agar tidak terjadi kerugian yang amat besar.

Menyimpan uang tunai sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Pilihan ini memang cenderung lebih memudahkan, terutama ketika kamu sedang ada kebutuhan mendesak saat berada #dirumahaja.

Namun, perlu diingat, nilai uang dalam bentuk tunai tidak akan berkembang dan justru tergerus inflasi. Maka dari itu, sebaiknya kamu tetap berinvestasi di tengah pandemi ini.

Reksa Dana Jadi Pilihan Banyak Orang

Dari banyak instrumen investasi yang bisa menjadi pilihan, beberapa orang memilih reksa dana. Bahkan milenial sukses seperti Raditya Dika pun memilih reksa dana karena merasa harus “mengamankan” uangnya dari potensi boros saat #dirumahaja.

Nah, pertanyaan berikutnya, apakah di kondisi ekonomi yang sedang bergejolak seperti saat ini, memilih reksa dana memang tepat? Untuk ini, jawaban terbaiknya ada di kesiapan kamu sebagai investor.

Soalnya bila kamu tidak siap, investasi itu menjadi sulit. Kamu akan cenderung menganggap semua investasi itu berisiko. Namun perlu diingat kembali bahwa reksa dana memiliki risiko yang relatif lebih kecil dibanding investasi seperti pasar modal.

Instrumen reksa dana secara umum sebenarnya ditawarkan untuk mereka yang memiliki tujuan keuangan—jadi bukan untuk mereka yang ingin berspekulasi. Sebab reksa dana sejatinya tidak memerlukan persiapan berlebih. Uang yang kita investasikan di reksa dana akan dikelola oleh manajer investasi yang kita pilih sendiri.

Head of Mutual Fund Distribution PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Eri Kusnadi bahkan mengatakan kadang-kadang banyak orang yang “lupa” mencairkan investasinya. Padahal saat itu keadaan ekonomi baik-baik saja dan nilai investasinya sudah meningkat.

“Kenapa orang-orang itu tidak mengambil investasinya, karena ia berharap dan percaya ada imbal hasil yang lebih tinggi.”

Tidak Tanpa Risiko

Namun bohong besar jika investasi tidak memiliki risiko. Reksa dana sekalipun punya risiko meski lebih minim daripada saham.

Biasanya risiko yang dihadapi adalah kehilangan potensi mengambil keuntungan di waktu yang tepat. Jadi misalnya 7 tahun lalu kondisi ekonomi sedang baik, namun kamu tidak mengambil hasil investasi karena yakin akan mendapatkan imbal balik yang lebih besar di tahun-tahun berikutnya. Sementara ketika tahun berganti, kondisi ekonomi malah berbalik melambat. Keuntungan yang kamu dapatkan jadi tidak sebanyak ekspektasi. Risiko seperti inilah yang harus kamu ketahui.

Di sini membuktikan bahwa mau perekonomian sedang bagus atau tidak, kesiapan seorang investor memang sangat penting. Namun setidaknya nilai investasi kamu tidak tergerus inflasi meski keuntungannya tidak sebanyak yang diharapkan.

Lalu hal apa saja sih yang menjadi persiapan kita sebelum berinvestasi reksa dana? Simak yuk.

3 Persiapan Sebelum Investasi Reksa Dana

1. Kondisi Keuangan Sehat

Mulailah ketika kondisi keuangan sedang sehat. Ada 4 indikator untuk mengetahuinya, yakni rasio pengeluaran, dana darurat, rasio cicilan, dan asuransi jiwa.

Memiliki rasio keuangan sehat akan membuat kamu lebih siap menghadapi gejolak, baik dari kejadian mendadak yang membutuhkan dana sehingga tidak harus terpaksa mencairkan dana ketika nilainya sedang menurun.

Kesehatan keuangan yang baik juga dapat membuat kamu berpikir lebih jernih dan memanfaatkan momentum penurunan harga karena masih memiliki dana kas yang disimpan dalam bentuk dana darurat.

2. Tujuan Keuangan Cerdas

Tujuan merupakan pembeda antara investor dan spekulator. Investor memiliki tujuan keuangan dan berusaha mencapainya melalui investasi reksa dana. Sedangkan spekulator hanya ingin mendapat untung dari fluktuasi harga.

Tujuan keuangan yang baik akan memenuhi prinsip SMART (Specific, Measurable, Attainable dan Realistic, dan Time). Prinsip ini akan membuatmu mampu menyesuaikan jangka waktu investasi reksa dana.

Sebagai referensi, untuk tujuan kurang dari setahun adalah reksa dana pasar uang, untuk tujuan satu hingga tiga tahun adalah reksa dana pendapatan tetap, dan tiga hingga lima tahun adalah reksa dana campuran serta lebih dari lima tahun adalah reksa dana saham.

Bila kamu fokus pada waktu tujuan keuangan, misalkan investasi untuk pendidikan anak yang baru akan kamu pakai 10 tahun mendatang, tentu tak akan membuatmu terlalu pusing bila hasil investasi sedang fluktuasi seperti saat ini.

Pahami Risiko Investasi

Seperti dibahas sebelumnya, investor harus selalu menyadari bahwa investasi pasti mengandung risiko. Tak ada investasi yang bisa menjamin keuntungan yang pasti. Namun, dengan mengambil risiko, investor berpotensi menikmati hasil yang lebih tinggi dibanding menabung dalam jangka panjang.

Risiko memang suatu hal yang tidak menyenangkan, siapapun pasti tak akan senang melihat nilai uangnya berkurang. Namun, dengan menyadari hal tersebut, kamu bisa lebih siap menghadapinya.

Investor yang beranggapan bahwa investasi reksa dana tak akan rugi akan menjadi khawatir ketika nilainya turun. Jadi, sangat penting berinvestasi melalui penjual yang memberi edukasi dan informasi pasar pada nasabahnya dengan baik.

Itu tadi 3 hal utama yang harus disiapkan sebelum beinvestasi reksa dana, terutama di saat perekonomian loyo seperti sekarang. Sudah siap berinvestasi reksa dana?

Manfaatkan mudahnya mengelola uang untuk investasi reksa dana di aplikasi Welma dari BCA. Dengan aplikasi ini, kamu bisa investasi kapan pun dan di mana pun hanya lewat ponsel.

Klik di sini untuk info detail soal Welma.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.