Saatnya Berubah, Begini Cara Terapkan Gaya Hidup Minimalis (Bagian 1)

Ilustrasi
Ilustrasi

Disadari atau tidak, pandemi COVID-19 telah berdampak pada segala aspek kehidupan. Banyak hal berubah—dan terjadi dengan cepat sehingga menuntut kita untuk segera beradaptasi.

Persis seperti kata Tony Matthews, Senior Lecturer in Urban & Environmental Planning, Griffith University. Di situs pribadinya dia bilang kalau kita mau tak mau memang harus mengikuti arus perubahan.

Sebab perubahan yang terjadi sekarang bakal menjadi kebiasaan. Artinya, kalau tidak beradaptasi berubah, maka kita akan tertinggal dan menjadi bagian dari masa lalu. Waduh, beneran gitu?

Biar enggak ribet, kita pakai analogi jalan tol saja deh. Misalnya Ambar mau ke Bandung naik mobil. Waktu belum ada jalan tol, mungkin ia akan menghabiskan waktu sampai 5-6 jam.

Tapi sejak ada jalan tol, waktu tempuhnya sebenarnya bisa lebih cepat 2-3 jam. Namun enggak ada yang mewajibkan dia harus lewat jalan tol, kan?

Nah, karena ia tidak mau ketinggalan, masa iya Ambar enggak ikutan pakai jalan tol biar lebih cepat? Dulu jalan tol itu istimewa. Tapi sekarang, jalan tol sudah biasa banget.

Saatnya Berubah

Sekarang berarti giliran kita nih yang bertanya pada diri sendiri. Perlukah kita berubah?

Ingat kata Elon Musk. Some people don’t like change, but you need to embrace change if the alternative is disaster.

Dari situ, kita bisa petik bahwa sebenarnya terserah kamu mau berubah atau tidak. Toh memang ada yang suka dan ada yang enggak.

Kamu tinggal pilih mau ikut berubah atau pilih alternatif lain. Tapi kalau alternatif lain malah menimbulkan bencana, ya ngapain dipilih?

Jadi, harusnya pertanyaannya bukan: “Apakah kita perlu berubah?”

Ganti jadi: “Perubahan seperti apa yang harus kita lakukan?”

Legenda sastrawan dunia, Leo Tolstoy pernah bilang: “Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself.”

Coba renungkan. Ada benarnya, kan? Bukankah memang akan lebih baik kalau kita memulai perubahan dari diri sendiri dulu?

So, enggak perlu tunggu lama. Yuk menghadap ke cermin, yakinkan diri, dan mulai melangkah untuk membuat perubahan dari diri sendiri. Kamu bebas kok mau menjadi apa.

Namun seperti kata mutiara Ali bin Abi Thalib: “Jadilah orang yang dermawan tapi jangan menjadi pemboros. Jadilah orang yang hidup sederhana, tetapi jangan menjadi orang yang kikir.”

Siap jadi orang sederhana? Sederhana bukan berarti enggak punya, kan? Yang penting menenangkan dan fokus pada tujuan alias minimalis.

Yuk hidup minimalis. Belakangan, orang bilang hidup minimalis itu bisa bikin hidup kita lebih baik. Konsep hidup ini malah sebenarnya sudah lama berkembang di negara maju macam Jepang dan Amerika.

Konsep ini memilah barang-barang yang kita punya dan menyimpan apapun yang menurut kita masih punya ‘sparks of joy’ alias “masih bisa bikin kita senang”.

Dari para tokoh seperti Joshua Fields Millburn, Ryan Nicodemus, sampai Marie Kondo, kita bisa memetik kalau mau bahagia itu enggak harus ribet. Konsep gaya hidup minimalis itu mengajak kita menjalani hari-hari dengan menikmati apa yang kita punya dan sesuai dengan yang dibutuhkan. Sederhana juga mengajarkan kita untuk tidak memaksakan punya barang yang justru mengalihkan fokus pada tujuan hidup.

Setidaknya ada tiga cara memulai hidup minimalis.

Simak di Bagian Kedua