Strategi Investasi Pasar Keuangan di 2019

Investasi Milenial
Investasi Milenial

Meski kondisi pasar keuangan di tahun 2018 lalu bergejolak, pencapaian investor di akhir tahun lalu membanggakan. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah investor saham telah mencapai 222 ribu investor dengan total keseluruhan sebesar 851 ribu investor saham. Apakah kamu termasuk salah satunya?

Membuka awal tahun 2019, gairah investasi kalangan milenial atau investor muda bisa dibilang cukup tinggi. Data BEI menyebutkan, generasi muda di usia 18-25 tahun memegang pertumbuhan tertinggi dalam dua tahun terakhir. Bagaimana strategi memaksimalkan portofoliomu di tahun pemilu ini?

CEO Jagartha Advisors FX Iwan menyarankanmu untuk memperhatikan beberapa hal seperti pergerakan nilai tukar rupiah, saham, obligasi, dan reksa dana yang cukup fluktuatif. Saat ini, katanya, juga merupakan waktu yang tepat untuk melatih kepekaan pada isu-isu domestik dan eksternal untuk melihat faktor penggerak naik turunnya nilai investasi.

"Bila memperhatikan kinerja tahun lalu, tahun ini investor bisa membagi porsi portofolionya di saham, obligasi, dan peer to peer lending. Untuk porsi masing-masing yakni 60% di reksa dana saham atau saham langsung, 30% di obligasi ritel, 10% pada instrumen P2P lending,” kata Iwan dalam keterangan tertulis.

Iwan juga menyarankanmu untuk mengetahui profil risiko dan tujuan investasi. Pasalnya, hal ini akan berdampak pada pembagian porsi portofolionya. Salah satu instrumen yang bisa jadi pilihan adalah instrumen jangka menengah, seperti obligasi ritel atau sukuk ritel.

Instrumen investasi di reksadana saham atau saham langsung cocok bagi profil risiko agresif. Menurut Iwan, pasar saham di tahun 2019 punya potensi naik di atas rata-rata dibandingkan dengan instrumen lainnya, seperti deposito atau obligasi jangka pendek dan panjang. Selain itu, ada lagi instrumen investasi yang mungkin bisa dieksplorasi oleh investor pemula, yakni masuk ke portofolio peer to peer lending.

Meski begitu, Iwan mengingatkan agar investor jeli melihat risiko yang relatif lebih besar di bisnis P2P.

“Kuncinya bukan semata pada instrumen apa yang dipilih tetapi proporsi untuk membangun investasi. Saat ini tidak ada patokan khusus dan pasti akan porsi yang ideal, karena semua orang punya tujuan investasi yang berbeda-beda. Perencanaan yang baik akan membantu inverstor merealisasikan tujuan,” tutup Iwan.

Buat kamu yang tertarik untuk berinvestasi di sukuk, saat ini tengah dibuka ST-003 dengan imbal hasil 8,15%/ tahun. Untuk informasi lebih lanjut tentang ST-003, kamu dapat membuka tautan berikut ini.