3 Hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Jadi Kutu Loncat

Ilustrasi pekerja memikirkan untuk resign
Ilustrasi pekerja memikirkan untuk resign

Tingginya jumlah "kutu loncat" menjadi karakter unik generasi milenial dalam berkarier. Sebuah survei dari Sociolab menunjukkan rata-rata seseorang hanya bertahan kurang dari 3 tahun bekerja di satu perusahaan. Fenomena ini pun berkaitan dengan permintaan gaji, jam kerja, dan jaminan status para pekerja muda.

Bagi beberapa perusahaan, kutu loncat dinilai sebagai kekurangan lho. Orang dengan karakter ini disebut tidak punya loyalitas pada perusahaan.

Namun di sisi lain, kutu loncat rupanya memberikan keuntungan bagi pelakunya. Sebut saja mulai dari pengalaman yang lebih variatif, jaringan bisnis yang lebih luas, hingga peluang kesuksesan yang lebih tinggi biasanya didapatkan mereka.

Kalau kantor tempatmu bekerja adalah perusahaan biasa, permintaan seperti gaji, jam kerja, dan jaminan status biasanya sulit terpenuhi. Sebab bagi mereka fleksibilitas jam kerja sangat bergantung dari bisnisnya.

Nah, untuk kamu yang gemar jadi kutu loncat dalam berkarier, sudah mempertimbangkan hal-hal tadi belum? Sebab, seperti dalam buku best selling karya Stephen Covey, 7 Habits of Highly Effective People, kesuksesan seseorang secara garis besar dimulai dari perbaikan dalam diri melalui sikap proaktif, dilanjutkan dengan hubungan dengan orang lain interpersonal, lalu hubungan intrapersonal.

Artinya, yuk instrospeksi dulu apakah kamu benar-benar sudah harus segera pindah kantor atau belum. Tidak ada yang salah dengan introspeksi, evaluasi, dan adaptasi terhadap lingkungan kok. Termasuk juga evaluasi faktor eksternal.

Nah, berikut ini beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan sebagai generasi milenial.

1. Kondisi Perusahaan

Memahami kondisi perusahaan sangat penting. Namun tidak hanya kondisi saat kamu bekerja saja ya. Kamu juga harus tahu bahwa siklus hidup perusahaan itu memiliki pola pertumbuhan yakni start up, rising/growth, mature/enterprise, decline.

Saat perusahaan dalam fase start up dan growth, peluang untuk jatuh masih sangat besar. Begitu pula dengan peluang untuk tumbuh. Jadi secara tidak langsung hal ini bisa berdampak pada peluang kariermu.

Lihatlah bagaimana pertumbuhannya. Semakin cepat pertumbuhan dan ekspansi perusahaan, semakin banyak pula posisi yang terbuka di korporasi.

Nah, untuk perusahaan yang berada di fase mature biasanya sudah memiliki sistem kerja yang baik, sehingga kesejahteraan pun terjamin. Ya boleh dibilang peluang jatuhnya juga sangat kecil.

Hanya saja masalahnya, perusahaan pada fase mature/enterprise ini cenderung memilih strategi bertahan. Sehingga tidak banyak inovasi dan eksperimen berisiko yang dilakukan. Dengan begitu, dampak untuk karier karyawan bisa diprediksi, yang artinya kecepatan promosi tidak akan secepat perusahaan yang berada dalam fase growth.

2. Value Perusahaan

Ini pun menarik. Umumnya perusahaan menjunjung tinggi nilai loyalitas sebagai core value. Loyalitas di sini konteksnya tentu saja masa kerja yang lama.

Nah, ada lho perusahaan yang menghargai karyawan pada loyalitasnya. Jadi ini tentu saja tidak sesuai dengan karakter milenial yang umumnya menikmati pekerjaan di perusahaan tertentu hanya kurang dari tiga tahun.

Untuk itu, ketahuilah dulu lalu lintas di perusahaan tersebut. Apabila banyak yang loyal, bisa jadi justru jenjang kariermu bisa tertahan lama karena posisi di atasnya pun bertahan cukup lama.

3. Beban Kerja, Passion, dan Skill

Meski setiap divisi human resource development (HRD) melakukan assessement saat menerima karyawan, ada kalanya masih terjadi missed position. Penyebabnya, tidak ada tes psikologi yang memiliki akurasi 100%. Sehingga tujuan untuk mengenali potensi, bakat, dan kesesuaian calon karyawan dengan posisi yang dibutuhkan juga kerap meleset.

Hal ini sebenarnya bisa kamu sadari dengan sendirinya setelah resmi bekerja di perusahaan tersebut. Jika memang menurutmu tidak sesuai skill dan passion, kamu boleh memasukkan opsional resign dalam daftar pertimbangan.