7 Cara Menulis Surat Lamaran Kerja yang Disukai HRD

Jangan kosong ya
Jangan kosong ya

Pernah berpikir kalau surat lamaran kerja itu enggak penting? Please, pemikiran seperti ini sebaiknya dihilangkan saja. Sebab, di situasi seperti sekarang, peran surat lamaran kerja justru sangat menentukan.

Begini, sudah sewajarnya perusahaan menyeleksi karyawan dengan ketat. Apalagi kandidat yang masuk ada banyak dan masing-masing punya latar belakang beragam. Recruiter tentu harus menimbang-nimbang dokumen yang ada.

Nah, jika surat lamaran kerjamu tidak terlihat menjanjikan, maka aplikasi lain (CV, resume, portofolio, dsb) akan mendapatkan waktu yang hanya sepintas. Lain hal jika suratmu menarik dan berbeda, tentu recruiter akan dengan senang hati meluangkan waktunya untuk melakukan pemeriksaan detail.

Maka dari itu, yuk bikin surat lamaran kerja yang menarik. Ada tips bagus nih dari Business Insider.

1. Tulis Subjek Email Sejelas Mungkin

Masih ingat dengan konten viral keluhan seorang HRD yang dimuat di sosmed? "Anak zaman sekarang kok ngirim email lamaran kerja enggak ada etikanya, mosok subjek email saja dikosongin?" begitu kira-kira keluhannya.

Subjek email itu sangat penting bagi HRD untuk menyortir email lamaran yang masuk. Jika subjek email saja enggak jelas, bahkan kosong, mungkin surat tersebut enggak akan dibaca dan mungkin saja langsung dilaporkan sebagai spam.

Coba tulis subjek seperti, "Application for (tulis job yang kamu ingin tempati) : (nama kamu)". Contohnya, "Application for Content Editor : Gisella Annabelle".

2. Alamatkan Pada Orang yang Tepat

Jangan sekadar menulis "Dear Sir/Madam" pada salam pembuka, karena itu menunjukkan kamu enggak punya effort saat mencari kerja. Alamatkan email pada orang yang menaruh post lowongan kerja.

Kalau enggak ada, coba cari tahu, siapa Hiring Manager di perusahaan impianmu. Bisa dengan stalking di LinkedIn, atau bertanya pada kenalanmu yang sudah bekerja di perusahaan tersebut. Kalau enggak ketemu juga, tulis saja, "Dear HR Professional", atau "Dear Hiring Manager".

3. Tulis dengan Spesifik yang Dapat Kamu Lakukan di Perusahaan Tersebut

Hindari melakukan copy-paste dalam menulis surat lamaran. Jangan pernah kirim isi lamaran yang sama dengan surat lamaranmu sebelumnya untuk perusahaan lain. Sebaliknya, coba tuliskan secara spesifik apa yang bisa kamu berikan ke perusahaan.

Sebutkan berbagai kelebihanmu, skillset yang kamu kuasai, dan bagaimana kedua hal itu dapat menjadi solusi bagi perusahaan. Jangan lupa tunjukkan bahwa kamu punya passion dan sangat antusias untuk bekerja di perusahaan tersebut.

Jika kamu pernah bekerja di perusahaan kompetitor atau klien perusahaan, sebutkan saja. Ini jadi nilai plus, sebab akan menunjukkan bahwa kamu sudah tahu apa yang bakal kamu kerjakan di sana.

4. Andalkan Relasi

Hingga saat ini, relasi dengan orang dalam masih sangat penting dalam dunia karier. Kalau kamu memang kenal seseorang, sebutkan saja namanya di surat lamaran. Atau, minta kenalanmu untuk mengirim surat lamaranmu secara langsung ke HRD.

5. Pamerkan soft skill

Soft skill di zaman sekarang sangat diburu. Misalnya kemampuan berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, dan fleksibilitas dalam bekerja. Jangan lupa sebut kalau kamu terbiasa juga bekerja remote dan punya perlengkapan untuk itu.

6. Minta Izin untuk Follow-Up

DI bagian akhir surat lamaran, tulis bahwa kamu akan follow-up lamaranmu pada tanggal tertentu. Baiknya sih seminggu setelah kirim lamaran, atau seminggu setelah batas waktu kirim lamaran yang ditentukan oleh perusahaan. Jangan lupa catat di kalender ponselmu biar enggak kelupaan.

7. Kirim Secepat Mungkin

Terakhir, kirimlah email lamaran kerja secepat mungkin. Kalau bisa, maksimal 3 hari setelah lowongan kerja di-post. Sebab, semakin lama tentu makin banyak kandidat yang kirim lamaran dan ada kemungkinan HRD enggak bakal ngecek jika sudah dapat jumlah kandidat yang dianggap cukup.

Bagaimana, sudah dapat bayangan? Yuk segera perbaiki surat lamaranmu.

Intip peluang karier di sini.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.