Apa Kabar Fresh Graduate Tahun Ini? Bagaimana Cari Kerjanya?

Ilustrasi
Ilustrasi

Judul di atas akhirnya menjadi pertanyaan yang belum ada jawabannya. Setidaknya itulah yang dialami narasumber kami Sonny A.J. Dalam sebuah percakapan virtual, ia berbagi keluh kesah dan kebingungannya soal bagaimana ia cari kerja di masa pandemi seperti sekarang.

Tahun ini, lebih tepatnya, Januari 2020 lalu, Sonny lulus sidang skripsi. Ia belum wisuda karena memang masih ditunda. Namun status kelulusannya sudah dipastikan.

Sayang, pandemi terjadi. Ia belum bisa melamar kerja—setidaknya itu yang ia pikirkan. Bulan demi bulan terlewati dan ia makin resah: “Kapan saya mulai bekerja?”

Seperti kita tahu, sejak social distancing atau istilah versi WHO-nya physical distancing, sejumlah sektor usaha mendadak sepi. Beberapa mulai melakukan perampingan dengan berbagai kebijakan. Ada yang potong gaji, PHK, dan lain-lain.

Hal inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan untuk seorang fresh graduate seperti Sonny. "Kalau banyak orang diberhentikan, bagaimana saya melamar pekerjaan?" demikian tanyanya.

Ia sebenarnya banyak melamar di situs lowongan kerja. Tapi panggilan tak kunjung datang. Ia pun terpaksa pulang ke kampungnya di Bandung.

Sonny adalah generasi Z kelahiran 1996. Bisa dibilang, dia ini angkatan tua alias angkatan terakhir generasi Z yang berada di rentang usia 21-23 tahun. Yang kayak Sonny ini ada banyak.

Lalu, kalau mau pinjam laporan dari Pew Research Center, ternyata hampir separuh pekerja berusia 16-24 tahun itu kerjanya di sektor jasa macam restoran, bar, dan hotel. Penghasilannya juga masih di bawah rata-rata.

Kemudian datanglah COVID-19. Lantas bagaimana nasib fresh graduate?

Enggak ada cara lain: mereka harus meningkatkan kemampuan demi bersaing selepas pandemi nanti. Mengapa? Yuk simak beberapa ulasan berikut.

Saingan Lebih Banyak

Menurut Survei Harris Pol, saat ini, mereka yang terkena kebijakan dirumahkan oleh kantornya rata-rata pekerja entry level atau yang masih kontrak. Usia mereka rata-rata masih muda.

Artinya, saat pandemi ini berakhir, fresh graduate akan bersaing dengan para pekerja muda yang tentu saja sudah punya pengalaman ini. Skill akhirnya jadi barometer perusahaan untuk menentukan siapa yang akan dipilih.

Penghasilan (mungkin) Kecil

Pandemi COVID-19 telah mengguncangkan keuangan banyak perusahaan. Mereka yang masih bertahan, tentu harus mulai pelan-pelan lagi untuk bangkit. Bisa jadi, perusahaan akan mendahulukan merekrut karyawan dengan gaji lebih rendah.

Dengan gaji kecil, besar kemungkinan mereka sulit memenuhi kebutuhan yang semakin naik. Akhirnya skill fresh graduate akan menentukan kondisi finansialnya. Sebab bila ia pandai mengatur waktu, ia bisa mencari penghasilan tambahan dengan kemampuannya.

Mereka akan mencari sampingan ataupun sambil membuka peruntungan bisnis.

Tulang Punggung

Bukan tidak mungkin fresh graduate yang sekarang menjadi tumpuan keluarganya karena pekerjaan orangtuanya terdampak COVID-19. Riset dari Pew Research Center tadi juga melaporkan orang yang berusia 18-29 tahun jadi yang paling rentan menanggung beban finansial anggota keluarga mereka.

Sebab 29% kelompok usia tersebut punya anggota keluarga yang kehilangan pekerjaan, sedangkan 39% sisanya punya anggota keluarga yang mengalami pemotongan waktu kerja.

Dengan menjadi tulang punggung, ia pun butuh tambahan finansial. Skill akan menentukan pekerjaan apa yang bisa ia dapatkan.

Tiga hal tadi akhirnya menegaskan bahwa fresh graduate mau tak mau harus meningkatkan skill saat ini. Tenang, kamu pasti bisa.

Peneliti generasi milenial dan Z serta presiden Center for Generational Kinetics, Jason Dorsey, mengatakan setiap generasi dipisahkan oleh peristiwa bersejarah yang membawa pengaruh besar. Dilansir The Financial Brand, ia bilang kalau setiap generasi pasti mampu melewati segala masalah.

Ambil contoh Silent Generation, yakni generasi yang menyaksikan langsung Perang Dunia II. Keturunan pertama mereka, Baby Boomers, harus berjuang ketika perang baru saja berakhir.

Lalu Generasi X yang angkatan pertamanya lahir pada 1965 berjuang saat menyaksikan Perang Dingin.

Nah, Generasi Milenial kerap diasosiasikan dengan Krisis Ekonomi 2008. Mereka juga harus melewatinya. Sementara Generasi Z dipisahkan dari Generasi Milenial oleh peristiwa 9/11.

Sekarang, pandemi COVID-19 bisa jadi penanda antara generasi Z dan generasi setelahnya. Merekalah yang bakal berjuang melewati masa ini. “Pandemi ini akan mengubah cara Generasi Z belajar dan bekerja,” ungkap Dorsey.

Wah, untuk kamu fresh graduate, yuk bulatkan tekad. Tingkatkan kemampuan kita saat #diRumahAja. Cari sumber bacaan yang berfaedah; tonton tayangan yang mengedukasi; dan pelajari hal yang belum kamu kuasai.

Unduh aplikasi yang bisa meningkatkan pengetahuanmu. Misalnya pengetahuan bahasa asing, desain grafis, atau apapun itu. Sebab setelah pandemi ini berakhir. Kamu harus jadi pemenangnya.

Pastikan kuota internet kamu cukup. Manfaatkan promonya di sini biar belajarmu bisa lebih murah.

Klik di sini.