Dilema Perempuan Setelah Menikah, Bekerja Atau Mengurus Rumah Tangga?

Dilema perempuan setelah menikah
Dilema perempuan setelah menikah

Setelah menikah, banyak perempuan akan terombang-ambing dalam dua pilihan; tetap bekerja atau mengurus rumah tangga.

Ini dilematis, sebab jika tetap bekerja seperti sewaktu masih single, kamu jadi punya sedikit waktu untuk mengurus keluarga. Jika memutuskan untuk resign dan mengurus rumah tangga, mungkin akan kurang menguntungkan secara finansial.

Jika kamu mengalami situasi tersebut, ada baiknya mempertimbangkan beberapa hal berikut.

Pertimbangkan faktor finansial

Saat ini ada tren menikah muda. Mungkin, sepasang suami istri sama-sama baru merintis karier, tapi sudah berani menikah.

Memang tidak ada salahnya, tapi coba pertimbangkan, berapa kira-kira penghasilan yang dibutuhkan untuk menghidupi kamu dan suami, serta anak kalian kelak. Jika penghasilan suami tak cukup, pertimbangkan untuk jangan resign dulu.

Jangan lupa untuk berdiskusi secara terbuka dengan suami untuk melakukan perhitungan secara jelas dan tepat.

Vakum saja?

Daripada langsung resign dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga secara full time, ada baiknya kamu mencoba vakum saja dulu. Cobalah, apakah kamu suka menjadi ibu rumah tangga atau tidak. Lagipula, masa awal menikah adalah masa-masa yang seharusnya menyenangkan, sembari mengenal lebih jauh sifat dan kepribadian satu sama lain.

Tapi perlu kamu ketahui kalau lamanya vakum akan menentukan kesempatan kamu diterima bekerja kembali. Sebab, perusahaan cenderung sulit mempertimbangkan pelamar yang terlalu lama menganggur, meski sebelumnya ia sudah punya pengalaman bekerja.

Berwirausaha

Jadi ibu rumah tangga bukan berarti karier kamu tamat. Malah, bisa jadi itu adalah pintu baru untuk keberhasilan kamu kelak. Ibu rumah tangga punya waktu yang cenderung lebih fleksibel daripada wanita kantoran.

Kamu bisa menjalankan usaha kecil-kecilan. Sekarang sudah era internet dan media sosial, setiap orang bisa kok jadi seller online.

Hasilnya bisa kamu investasikan ke dalam instrumen investasi yang stabil dan memiliki risiko tidak terlalu tinggi, misalnya reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi sehingga kamu tidak perlu selalu memantau grafik pergerakan jual beli saham sendiri, seperti reksa dana atau mungkin yang lebih aman lagi adalah obligasi ritel yang saat ini kerap dikeluarkan negara.