Multitasking Keuangan Bisa Merugikan? Kok Bisa?

Ilustrasi
Ilustrasi

Demi efisiensi waktu, seseorang kadang didorong untuk bisa melakukan multitasking. Menariknya, ada sebuah penelitian yang ternyata berkata sebaliknya. Katanya, multitasking justru merugikan. Kok bisa?

Singkatnya, penelitian tersebut mengungkapkan bahwa mengerjakan sesuatu secara multitasking hanya akan membuat kerja otak terbagi langsung. Padahal hal semacam itu sebenarnya tidak dapat dilakukan oleh otak kita. Dijelaskan juga bahwa kinerja otak sebenarnya tidak didesain untuk menjalani tugas di waktu bersamaan.

Jadi kalau otak dipaksa bekerja bersamaan, kinerjanya bisa terganggu. Selanjutnya, jika hal ini dilakukan terus-menerus, bukan tidak mungkin malah membuat kamu stres dan ujung-ujungnya mengalami kerugian dalam banyak hal termasuk secara finansial.

Nah, mau tau kerugian finansial apa saja yang bisa kamu alami gara-gara multitasking?

1. Justru Tidak Efektif

Seperti disampaikan sebelumnya, otak sebenarnya tidak bisa dipaksa bekerja secara multitasking. Jadi kalaupun dipaksakan, hasilnya berpotensi tidak seefektif saat dikerjakan satu per satu.

Hal ini berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan Massachusett Institute of Technology Amerika. Disebutkan bahwa otak hanya mampu fokus pada satu atau dua hal saja. Jadi kalau ada yang menilai bisa melakukan banyak hal secara bersamaan, berarti dia sedang memaksakan otaknya.

Mengerjakan sesuatu secara multitasking juga bisa menurunkan fokus sampai 40 persen, lho. Besar kemungkinan kamu mengalami kesalahan. Termasuk saat menghitung anggaran.

2. Membuat Frustasi

Mengerjakan sesuatu secara multitasking membuatmu cepat lelah. Lantaran tidak fokus, kesalahan-kesalahan acapkali tidak bisa kamu hindari. Nah, jika itu sering terjadi pikiranmu bisa tertekan. Hal ini juga jadi tidak baik untuk kondisi psikologismu.

Sama halnya jika dilakukan untuk urusan finansial. Kamu cenderung bisa ceroboh dan malah mendorong membuat pemborosan.

3. Bukan Pemecah Masalah

Mungkin di antara kita ada yang berpikir bahwa mengerjakan sesuatu secara bersamaan bisa membuat pekerjaan cepat selesai. Pemikiran ini bisa saja benar. Namun jika sudah bicara kualitas, maka hal ini patut dipertimbangkan. Multitasking tidak pasti akan memecahkan masalah.

Dalam hal finansial, ada yang namanya prioritas. Kamu harus mengutamakan dulu prioritas dibanding yang lain. Misalnya utang dengan bunga besar. Jika kamu menjalani hal bersamaan seperti membayar utang dan menyiapkan dana darurat, hal ini bisa saja tidak efisien. Selain usia utang bisa tambah lama, dana darurat yang terkumpul juga lama.

Perencana Keuangan Prita Ghozie pun pernah berkata demikian. Sangat direkomendasikan bahwa pembuatan rencana anggaran baiknya dimulai dengan pembayaran utang. Setelah itu barulah menabung untuk dana darurat.

4. Berpengaruh pada Short Memory

Sering mengerjakan sesuatu secara multitasking membutuhkan konsentrasi penuh. Ini juga bisa membuat otak jadi overload. Paling parahnya, hal ini juga bisa menurunkan fungsi otak, terutama pada bagian short memory.

Seperti diungkapkan pada penelitian yang dilakukan oleh Clifford Nass, Ph.D. dari Stanford University tahun 2009 lalu, bagian otak inilah yang bekerja keras mengolah informasi yang masuk dan disimpan. Setiap kamu melakukannya, otak akan mengalami stimulasi berlebihan.

Jadi, kurangi kebiasaan mengerjakan sesuatu secara bersamaan ya. Aturlah waktumu sebaik mungkin dan kalau bisa kerjakan satu per satu agar lebih fokus dan berkualitas. Jangan tunda pekerjaanmu sehingga tidak menumpuk di kemudian hari.