Perfeksionis Itu Keren, Kalau Bisa Dikendalikan

Ilustrasi
Ilustrasi

Seseorang dengan sifat perfeksionis ingin segalanya sempurna. Mereka memiliki standar tinggi dalam segala bidang dan cenderung menginginkan orang-orang di sekitarnya punya standar yang sama.

Sekilas tidak ada yang salah dengan sifat ini. Kinerja sempurna dan bagus pasti jadi idaman. Pun juga dengan kehidupan yang sempurna dan tanpa cela pasti jadi impian.

Masalahnya, sifat perfeksionis ini bila tidak dikendalikan justru menghambat kesuksesan seseorang. Terutama bila seorang perfeksionis tersebut sedang menjalankan bisnis.

Standar tinggi seorang perfeksionis tadi bisa menjadi malapetaka. Mereka punya ketakutan bila tidak bisa memenuhi standar tersebut. Ketakutan ini akhirnya menghambat bisnis yang sedang dikerjakan seorang perfeksionis.

Itu baru satu yang disebutkan. Seperti dilansir dari Livescience, ada beberapa efek samping lain yang timbul dari sifat perfeksionis dan bisa menghambat kinerja berbisni.

Tak berani mengambil risiko

Seorang perfeksionis selalu menetapkan standar tinggi. Bila tak terpenuhi, para perfeksionis ini tak berani mengambil risiko.

Tanpa keberanian mengambil risiko, keputusan strategis dalam menjalankan bisnis pun urung dibuat. Akhirnya ya, bisnis jadi berjalan lebih lambat.

Cenderung lama dalam mengerjakan sesuatu

Biasanya, seorang dengan sifat perfeksionis ini akan mengecek pekerjaan berulang-ulang sampai merasa puas. Akhirnya, pekerjaan yang tadinya bisa dikerjakan sehari bisa saja molor hingga tiga hari. Target yang sudah ditentukan pun meleset.

Ingin mengerjakan semuanya sendiri

Seorang perfeksionis juga ingin mengerjakan segalanya sendiri. Mereka kurang percaya dengan kinerja orang lain karena standar tinggi tadi.

Tak ada kinerja tim berarti beban kerja lebih banyak. Tingkat stres seorang perfeksionis pun lebih besar karena beban kerja lebih banyak.

Dalam berbisnis, mengerjakan segalanya sendirian justru bisa menghambat kesuksesan. Butuh kinerja tim untuk bisa membuat lini bisnis berkelanjutan.

Bila kamu salah satu seorang perfeksionis, kamu bisa mencontoh mendiang Steve Jobs dalam membangun Apple. Steve memilih menahan sisi perfeksionis dan mencoba berpikir inovatif.

Ingat, tak ada hasil yang bakal sempurna meski kita sudah berusaha sehebat mungkin. Lebih baik berani mencoba dan jangan takut dengan kegagalan.