Profesi Ilmuwan Data Kian Menjanjikan di Era Digital

sains data
sains data

Di era digital ini, teknologi semakin memegang peran penting bagi bisnis maupun kehidupan manusia. Lapangan kerja pun merangsang munculnya profesi-profesi dan peluang-peluang baru yang menjanjikan. Salah satunya adalah ilmuwan data (data scientist).

Profesi ini bertugas mengolah data dalam volume sangat besar dengan kreatif untuk mengomunikasikan hasil olahan data itu sendiri. Karena beban yang besar itu pula, membuat profesi ini termasuk pekerjaan yang sangat menjanjikan dan mampu menghasilkan banyak uang..

Menurut hasil riset lembaga riset McKinsey Global Institute, tahun ini terdapat 200 ribu lowongan kerja terkait sains data (data science). Secara rata-rata, gaji di bidang ini bisa mencapai Rp30 juta per bulan tergantung kualifikasi dan pengalaman.

Kepada Smart-Money, Netty Setiawan yang merupakan bagian tim data predictive analytics di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengungkap, kebutuhan SDM di bidang ini terus mengalami peningkatan seiring waktu.

"Kebutuhannya (SDM) pada 2018 mencapai 50 orang, pada 2019 mencapai 150 orang dan pada 2020 menjadi 300 orang," kata Netty menggambarkan kebutuhan SDM di bidang sains data di BCA beberapa waktu lalu.

Kepala Divisi Pembelajaran dan Pengembangan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Lena Setiawati juga mengakui bahwa SDM yang menguasai bidang ini sangat terbatas. Karenanya, BCA pun membuat program khusus untuk mengatasi masalah ini.

"SDM ini sangat terbatas dan SDM yang sudah siap kerja sedikit. Jadi kita ambil lulusan Matematika, Statistik dan Ilmu Komputer kemudian kita latih sendiri. Kita punya program khusus untuk itu. Ini sudah berjalan setahun terakhir. Pelan-pelan kita isi kebutuhan SDM di bidang ini," ungkap Lena.

Hal senada juga diungkapkan Head of Business Data Platform Grab Ainun Najib. “Kebutuhan ilmuwan data saat ini masih tidak seimbang. Banyaknya permintaan pekerjaan sebagai ilmuwan data tidak diimbangi ketersediaan talenta,” katanya dikutip Kumparan.

Menurut Ainun, pendidikan juga mengambil andil besar dalam menyediakan talenta ilmuwan data di Indonesia. Baginya, pendidikan di Tanah Air belum menjadikan ilmuwan data sebagai suatu profesi yang penting.

"Ini menyangkut pendidikan, khususnya di Indonesia yang belum memasukan aspek data dalam kurikulum. Jadi talenta-talenta ini banyak belajar sendiri, akademia masih adaptasi, mereka sedang mencari komponen pelajaran tertentu. Makanya banyak dari mereka kursus online. Istilahnya tinggi demand dan short talent," pungkasnya.