Agar Berkah dan Untung, Ikuti Cara Nabi Muhammad Berbisnis

Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW adalah pengusaha sukses. Dalam tarikh (sejarah) Islam, Muhammad SAW sudah menjadi pengusaha sejak usia 12 tahun. Pamannya, Abu Thalib, adalah orang yang mengajarkannya berdagang.

Dalam waktu tak lama, Muhammad SAW menampakkan kelihaiannya berbisnis. Beberapa investor mempercayakan perdaganganya pada beliau. Dia pun selalu kembali dengan hasil yang gemilang.

Istri pertamanya, Khadijah RA, adalah salah satu rekan bisnis yang akhirnya tertarik padanya. Di usia 25 tahun, ia mampu membeli 100 unta sebagai mas kawin pada calon istrinya.

Bila harga unta setara harga sapi saat ini, berarti Nabi Muhammad SAW mampu memberi setidaknya Rp1,5 miliar. Karena itu, Nabi Muhammad SAW disebut sebagai salah satu pengusaha ulung.

Ini kiat berdagang dan berbisnis ala Nabi?

Jujur

Salah satu sebutan Nabi Muhammad SAW adalah Al-Amin (bisa dipercaya). Hal ini pun diterapkannya dalam berdagang. Sering dikisahkan, Nabi selalu jujur menyebut kelebihan dan kekurangan suatu barang, tidak mengurangi timbangan dan tidak ingkar janji.

Bekerja sebagai Ladang Ibadah

Nabi Muhammad SAW adalah pekerja keras dan cerdas. Dia adalah perencana ulung sekaligus pelaksana andal. Meski begitu, orientasi kerja nabi bukan untuk mendapat kekayaan pribadi, melainkan ibadah.

Dalam sebuah hadis, diriwayatkan "Sesungguhnya Allah sangat senang jika salah satu di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan yang dengan tekun dan sungguh-sungguh".

Sinergi

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang pintar mengajak orang untuk bersinergi dan bekerja sama. Dia adalah ahli strategi yang tahu persis cara mengalahkan lawan-lawannya tanpa harus merendahkannya.

Visioner, Kreatif dan Siap Hadapi Perubahan

Nabi Muhammad menjadi rasul di usia 40 tahun. Setelah menjadi rasul, beliau lebih memilih berdakwah. Setelah menikah dengan Khadijah, bisnis dan usaha Muhammad SAW berkembang pesat.

Dia adalah pengusaha sukses. Jaringan dagangnya sampai ke Yaman, Suriah, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Jazirah Arab lainnya.