Indra Bagas Sukma: Bisnis dengan Menjaga Hubungan Baik

bisnis
bisnis

Untuk urusan melihat peluang, Indra Bagas Sukma termasuk pengusaha yang jeli. Sebab, dari bisnis tampilan produk, kini ia sudah merambah bisnis konstruksi dan ritel. Ketika bisnis ritel melemah akibat daya beli yang menurun, Bagas pun tak mengalaminya.

Dia merambah bisnis gerai minimarket, distributor air mineral minum dalam kemasan (AMDK), katering dan pusat kebugaran. Dalam kesempatan ini, Smart-Money berkesempatan berbincang dengan Bagas di pusat bisnisnya di kawasan Graha Raya Bintaro, Tangerang Selatan untuk membahas kunci suksesnya. Berikut nukilannya:

Bisa diceritakan perjalanan bisnis Rajasa Expo?

Sebelumnya, saya bekerja di perusahaan elektronik asal Jepang, JVC. Saya belajar banyak di sana dan mengembangkan jaringan. Pekerjaan saya tak memungkinkan saya bertemu langsung dengan konsumen.

Suatu saat, JVC ingin memiliki ruang pajang khusus untuk mengenalkan produknya ke konsumen. Pada 2004, saya mengajukan diri pada atasan untuk mengerjakannya. Mereka setuju saya membuka outlet elektronik didukung produk-produk JVC.

Mereka melihat hasil kerja saya di JVC dan puas. Ada rekan importir yang mempercayakan sekitar 15-20 kamera jenis terbaru untuk untuk dipasarkan di bisnis saya. Dia percaya saja dengan saya. Setelah tiga bulan dan laku, baru saya harus membayarnya.

Bos saya di JVC tidak keberatan saya mencoba berbisnis sendiri, saya resign kemudian dengan pengalaman yang saya miliki, saya resmi membuka entitas bisnis baru PT Rajasa Expo Cipta Sarana, bergerak di bidang pembuatan fasilitas/show room dan produk promosi barang-barang elektronik.

Klien pertama saya adalah JVC. Beberapa waktu kemudian, beberapa perusahaan elektronik dari Jepang dan Korea juga menjadi klien saya.

Seperti apa perkembangan bisnisnya hingga banyak ekspansi?

Melihat Rajasa semakin besar pada 2006, saya mulai masuk ke bisnis ritel dengan merancang konsep pembangunan gerai minimarket dan interior untuk kafe milik salah satu perusahaan migas BUMN. Rajasa dipercaya untuk membangun tiga kafe di lokasi pilihan mereka.

Setelah itu, Rajasa juga diizinkan mengelola manajemen beberapa gerai minimarket tersebut. Saat itu, saya juga belajar bagaimana mengelola ritel. Setelah cukup paham, saya mendirikan usaha ritel dengan brand sendiri "Gambaru".

Saya juga melakukan ekspansi dengan membuat tempat pencucian mobil (carwash), distributor AMDK, kafe dan tempat olahraga, di lokasi yang sama "Gambaru Poin". Bersama kakak, saya juga membuka usaha katering, Nasi Bagoes.

Kenapa katering? Karena bisnis makanan tidak pernah mati. Katering juga lebih mudah dijalankan daripada restoran. Saya tidak perlu memaksa klien untuk ke restoran saya. Mereka bisa menikmati makanan di mana dan kapan saja meski dapur kami di Tangerang Selatan.

Saya dan Kakak mendirikannya pada April 2017. Sekarang, katering Nasi Bagoes sudah menjadi salah satu supplier sayur beku untuk melayani hotel dan perusahaan katering besar lainnya.

Kiat melihat dan membidik bisnis yang potensial?

Mulailah bisnis dari sekarang. Cara memulai bisnis pun bisa dengan berbagai cara. Contoh, saya tak berasal dari keluarga kaya yang ketika ingin membuka bisnis apapun, sudah punya modal. Sehingga perlu kerja keras.

Dalam bisnis, tak ada satu pun jaminan untuk berhasil. Orang kaya dengan dukungan banyak modal sekalipun bisa gagal. Beberapa bisnis saya justru hanya bermodal kepercayaan dari orang-orang yang selama ini dekat. Mereka juga percaya bahwa saya bisa melakukannya. Saya beruntung.

Kiat menjaga bisnis yang beraneka ragam?

Selalu libatkan orang-orang kepercayaan. Saya juga selalu melibatkan orang-orang yang memang memiliki kemampuan. Dalam bisnis katering misalnya, ada kakak dan suaminya yang memang pakar di bidang kuliner.

Kakak ipar saya seorang koki profesional. Latar belakang pendidikannya juga di bidang kuliner. Jadi, saya tahu bahwa mereka memiliki kemampuan mumpuni. Di bisnis pusat kebugaran, saya juga menggandeng seorang mantan atlet yang memang mengerti benar tentang bisnis ini.

Cara memastikan mendapat rekan bisnis yang tepat?

Jadilah orang baik dan jujur. Tidak ada orang yang ingin ditipu dalam berbisnis. Kalau menjadi orang baik dan menjalankan bisnis dengan baik dan jujur, kita juga akan menemukan rekan bisnis yang memang memiliki visi-misi yang sama.

Saya juga pernah ditipu rekan bisnis. Namun, apa yang terjadi? Bisnisnya tidak berkembang dan gulung tikar. Dia meminta maaf kepada saya. Saya juga memaafkannya. Hubungan kami sebagai teman tetap baik tetapi tidak ada lagi kesempatan untuk berbisnis bersama.

Kalau baik dan jujur, kita akan lebih mudah menjaga reputasi bisnis yang diperoleh sampai saat ini.

Kiat bertahan dan menghadapi persaingan?

Pertama adalah menjaga agar mutu, pelayanan dan harga tetap kompetitif. Persaingan yang cukup sengit di bisnis ini membuat banyak perusahaan menawarkan harga lebih murah pada klien. Kalau sudah begitu, kita akan diskusi bersama klien untuk mencari tahu spesifikasi, kualitas, hingga harapannya untuk menuju pada satu win-win solutions.

Prinsip mereka (konsumen) untuk meminta harga termurah dengan hasil terbaik itu harus dapat kita pahami. Karena itulah kita membuka diskusi ini. Bila mereka meminta diskon, mungkin masih bisa kita pertimbangkan.

Namun, kalau sampai selisih harganya mencapai 50%, kita tidak bisa pastikan bahwa kualitasnya pasti lebih bagus. Kompetitor yang banting harga, patut dicurigai memanipulasi mutu bahan baku atau sebab lain. Itu seni dari negosiasi bisnis.

Kedua, tantangan kita adalah melakukan efisiensi. Di bidang sumber daya manusia, kami rasanya cukup bisa bersaing. Namun, dalam hal anggaran, kami terus berusaha tetap bisa rendah dan bersaing dengan yang lain.

Hal apa yang perlu ditingkatkan untuk bisnis ke depan?

Digitalisasi. Saya mengakui mungkin sedikit terlambat mengadopsi dan memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk pemasaran. Kakak saya menyadarkan saya pada besarnya potensi media sosial untuk pemasaran.