Menembus Pertahanan Anak Muda yang 'Antibrand'

BCA Young Community Gathering
BCA Young Community Gathering

Jumlah anak muda (milenial) di Indonesia memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bila ingin bisnis bisa bertahan, generasi ini perlu menjadi perhatian sebuah merek. Sayangnya, generasi muda terbilang antibrand. Lalu bagaimana menghadapinya?

Besarnya populasi generasi muda masa perlu menjadi perhatian sebuah merek. Menurut data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), jumlah anak muda usia 10-24 tahun pada 2016 mencapai 66,3 juta jiwa dan akan terus bertambah seiring waktu.

Generasi ini pun dinilai memiliki kemiripan ciri dengan generasi Soekarno. "Ini sifatnya siklus. Jadi, hobi di generasi pertama kini muncul kembali," ungkap Pendiri Youth Laboratory Indonesia Dr Muhammad Faisal MSi.

Dalam hal ini, kata Faisal, anak muda menganggap bahwa komunitas adalah hal yang penting untuk mencari jati diri, apalagi kedua orang tua mereka bekerja. "Jadi, anak muda akan memilih berada dalam sebuah komunitas untuk mencari jati diri," katanya.

Tak heran bila anak muda masa kini memiliki kebiasaan yang berbeda. Banyak anak gaul zaman sekarang yang mementingkan penampilan. "Tampilan mereka sudah seperti dari kelas A dan B (SES)," katanya.

Selain itu, mereka punya ideologi dan nasionalisme kuat. Jadi, kata Faisal, bila sebuah merek salah langkah dalam memperkenalkan merek mereka pada generasi ini, kemungkinan besar akan mendapat penolakan.

"Apalagi anak muda kini sudah banyak yang antibrand, terutama mereka yang tinggal di daerah. Merek harus pintar menarik perhatian mereka. Salah satu caranya adalah melalui komunitas," kata Faisal.

Faisal menambahkan, untuk meningkatkan kesempatan agar diterima generasi muda, sebuah merek perlu mengintegrasikan diri dengan isu sosial.

"Penting bagi merek untuk membangun persepsi bahwa ia peduli dengan isu sosial dan memiliki ideologi," pungkasnya.