Pentingnya Lindung Nilai Dalam Bisnis Internasional

seminar LCS
seminar LCS

Ada banyak komponen yang mempengaruhi laporan laba rugi. Mulai dari pendapatan, biaya operasi, biaya bunga dan lain sebagainya. Dalam praktiknya, khususnya kamu yang memiliki bisnis dengan skala internasional, nilai tukar rupiah (kurs) juga memegang peranan penting.

Biasanya, ada preferensi untuk menggunakan dolar Amerika Serikat (AS) dalam melakukan transaksi. Padahal, hal ini memiliki risiko kurs yang berfluktuasi. Namun tenang, kamu bisa mengatasinya dengan lindung nilai (hedging).

Beberapa waktu lalu, kepada Smart-Money, Executive Vice President Divisi Tresuri & Divisi Perbankan Internasional Branko Windoe mengatakan bahwa biaya lindung nilai rata-rata 5%-10%.

"Dengan kondisi rupiah yang terdepresiasi, pengusaha bisa lebih untung dengan hedge accounting," katanya. Sebagai informasi, pada Maret 2018, rata-rata depresiasi rupiah secara harian mencapai 1,13%.

Direktur Eksekutif Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsah sepakat bahwa untuk kegiatan ekspor dan impor memerlukan lindung nilai.

Menurut Nanang, ketergantungan para pengusaha pada penggunaan dolar AS dalam bertransaksi bisa berkurang dengan adanya lindung nilai. Lebih spesifik, Nanang menyarankan penggunaan skema framework LCS (local currency settlement) untuk meminimalkan risiko pelemahan kurs, khususnya untuk transaksi dengan Ringgit Malaysia dan Baht Thailand.

"Implementasi LCS akan memberi banyak keuntungan. Seperti mengurangi dominasi dolar AS sebagai mata uang pembayaran. Kemudian, bisa untuk mengurangi tekanan terhadap permintaan valas dan membuat transaksi lebih efisien dengan menggunakan Ringgit atau Baht," papar Nanang.

Nanang melanjutkan, LCS juga akan membuat likuiditas valas menjadi lebih terjamin, biaya lindung nilai lebih rendah dan memberi akses alternatif berbagai investasi di masing-masing negara.

"Dunia usaha harus waspada terhadap fluktuasi nilai tukar yang harus diantisipasi dengan lindung nilai nilai tukar," ujar Nanang.

Sebagai pelopor implementasi LCS ini, kamu bisa mengakses layanan ini di PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Layanan BCA ini akan memudahkan transaksi ekspor dan impor yang kamu lakukan ketika menggunakan Ringgit maupun Baht.

Hal itu bisa terjadi karena BCA kini memfasilitasi transaksi bilateral dengan Malaysia maupun Thailand melalui operasionalisasi framework LCS rupiah-ringgit dan rupiah-baht. Langkah ini merupakan komitmen BCA memperluas layanan transaksi valas dan pengiriman uang antarnegara.

"Berkat dukungan lebih dari 2.000 bank koresponden, kami senantiasa memperbaharui diri terkait teknologi perbankan. BCA selalu siap membantu kelancaran bisnis untuk melakukan atau menerima international payment," ujar Branko di Remittance Customer Seminar BCA 2018 di Surabaya belum lama ini.

Branko melanjutkan, demi memastikan keamanan dan layanan yang prima, BCA akan terus mensosialisasikan perihal aturan main, produk baru atau hal-hal khusus terkait remittance.

"(Salah satunya) mengenai kebijakan baru dari Bank Indonesia (BI) terkait Local Currency Settlement (LCS)," katanya. Branko menambahkan, sistem keamanan milik BCA juga akan memberi rasa aman pada nasabah.

"Terkait tipu daya oleh pelaku kejahatan dan kecanggihan para hacker dalam beraksi, ini menjadi agenda yang menjadi perhatian khusus kami," pungkas Branko.