Rahasia Kenapa Orang Kaya Iritnya Gila-gilaan

Sebuah wax figure Mark Zuckerberg digambarkan begitu sederhana di sebuah museum di Bangkok.
Sebuah wax figure Mark Zuckerberg digambarkan begitu sederhana di sebuah museum di Bangkok.

Kamu mungkin enggak akan percaya sama hal ini. Tapi beberapa orang sukses dan kaya, justru ada yang punya gaya hidup irit seirit-iritnya.

Mereka enggak makan di restoran mahal. Setiap kali ada barang yang ingin dibeli selalu ditawar. Atribut yang ia pakai juga kadang enggak selalu branded. Dan semua itu fakta.

Seenggaknya, hal ini mematahkan anggapan awal kita terhadap orang-orang sukses. Dulu kita menganggap bahwa setiap orang yang bekerja keras dan sukses jadi konglomerat, pasti gaya hidupnya turut berubah. Entah pakaiannya, kendaraannya, rumahnya, gadget-nya, pacar-pacarnya, semua jadi lebih bergengsi.

Pandangan ini lantas dipertegas dengan berbagai kisah yang kita tonton di sinetron. Digambarkan bahwa semua orang kaya itu pasti sombong, gengsian, belagu, pamer belanja, dan lain-lain. Padahal enggak semua seperti itu. Malahan banyak orang yang sebenarnya enggak kaya-kaya amat tapi memaksakan diri tampil superkaya.

Kita semua tahu bahwa tidak semua orang kaya seperti itu. Tidak semua orang kaya berperilaku konsumtif atau hedonistis.

Dengan alasan bermacam-macam, tetap ada pengusaha besar yang lebih suka menjalani hidup sederhana, walau kekayaan mereka sudah taraf lintas negara. Malahan banyak kok di antara mereka yang iritnya ampun-ampunan.

Ambil contoh Ingvar Kamprad, sang pendiri IKEA. Seperti kita tahu, ia bangun IKEA sejak usianya baru 17 tahun. Sekarang investasinya sudah di mana-mana, termasuk Indonesia.

Dilansir dari therichest, Ingvar memang sangat tertarik dalam bisnis. Pas masih kecil, ia sudah sering cari cuan. Misalnya saat ia beli tiket pertandingan di Stockholm dengan harga murah, ia lalu kembali ke kotanya dan menjual dengan harga yang lebih tinggi.

"Begitulah cara ia meraih laba pertamanya," demikian ditulis therichest.

Sifat pebisnis dan irit Ingvar ini masih nempel banget sampai usianya sudah kepala 9. Meski punya kekayaan triliunan rupiah, ia sering makan di restoran murah. Ia juga sering menawar harga barang di pasar tradisional, dan terbang dengan pesawat kelas ekonomi.

Warren Buffett, salah satu orang terkaya lainnya juga masih tinggal di rumah yang ia beli pada 1958. Pilihan sarapannya adalah McDonald's, bukan restoran yang harus booking dari sebulan yang lalu.

Mantan walikota New York City sekaligus orang terkaya kesembilan di dunia, Michael Bloomberg pun ternyata punya catatan penghematan luar biasa. Dia dilaporkan mengenakan dua pasang sepatu hitam yang sama untuk bekerja lebih dari 10 tahun. Menurutnya, jika masih bisa diperbaiki, mengapa harus membuang uang untuk mendapatkan barang yang baru?

Begitu pula dengan Mark Zuckerberg. Ia selalu ingin tampil sederhana dan hidup biasa-biasa saja. Baginya, foya-foya tak pernah ada dalam rencananya.

Dari mereka setidaknya kita bisa belajar bahwa ketika penghasilan kita bertambah, pengeluaran tidak harus bertambah. Malah jika kita bisa menjaga pengeluaran saat penghasilan naik, niscaya akan mendatangkan kesuksesan di kemudian hari.

Duitnya kan bisa untuk tabungan pensiun, biaya pendidikan anak, dana darurat, investasi, dan lain-lain. Dan kita enggak tahu, apa yang bakal terjadi di masa depan nanti.

Lalu apa alasan orang-orang kaya ini tetap hidup sederhana? Dilansir bankrate, Dosen University of Georgia dan penulis buku laris The Millionaire Next Door, Thomas Stanley, pernah mengungkapkan setidaknya ada tiga alasan di balik kebiasaan hidup sederhana para miliarder ini.

Pertama, mereka dibesarkan di lingkungan yang sederhana. Kebiasaan hemat dan anti menghambur-hamburkan uang para miliarder ini sudah terbiasa sejak kecil. Biasanya, mereka dididik untuk bisa bijak membelanjakan uang.

Kedua, mereka mengerti arti kekayaan. Punya banyak harta tidak berarti menjadikan kita seorang orang kaya. Stanley menjelaskan, miliarder ini tahu betul kekayaan jumlah besar yang didapat tidak akan bertahan lama apabila dihambur-hamburkan percuma.

Ketiga, dipengaruhi lingkungan pekerjaan. Menurut Stanley, orang kaya yang cenderung hidup sederhana biasanya berasal dari kalangan pendidik, insinyur, pemilik bisnis kecil, hingga pengusaha agribisnis. Kebiasaan untuk berhemat ini datang dari budaya kerja mereka.

Nah, yuk mulai irit. Mulailah ubah mindset kita terhadap uang. Atur dan buat rencana keuangan demi tercapainya tujuan. Sisihkan investasi sejak awal, bukan sebaliknya.

Andalkan tabungan berencana demi tercapainya kebebasan keuangan. Salah satu program tabungan berencana yang bagus adalah Tahapan Berjangka di BCA.

Penasaran? Coba simulasinya di sini.

Untuk investasi, sekarang zamannya dari handphone. Pakai aplikasi WELMA untuk coba investasi pertamamu.

Pelajari WELMA di sini.

Siap jadi orang sukses?