'Senjata' Ampuh Untuk Hadapi Ekonomi Disrupsi

target pasar
target pasar

Perkembangan teknologi di dunia bisa menjadi musuh. Kemudian, semua pelaku bisnis merasa wajib mendisrupsi diri melalui teknologi. Hal ini pun berakhir pada belanja besar-besaran di bidang teknologi dengan harapan bisa bertahan di tengah sengitnya persaingan.

CEO GDP Ventures Martin B. Hartono menyebut, hal ini kurang tepat. Beberapa tahun lalu, ketika dirinya memutuskan terjun di dunia modal ventura, dia mengaku tidak melihat perkembangan teknologi sebagai penyebab kehancuran suatu bisnis.

"Ini semua tentang mindset (pola pikir). Perubahan pola pikir yang paling penting dalam menjalankan bisnis," ungkapnya di GDP Icon 2018.

Ketika akhirnya mengembangkan GDP Ventures, Martin bilang, ia melihat Indonesia memiliki modal, sumber daya manusia dan lingkungan yang kondusif untuk menjadi sebuah negara besar.

Ia yakin, pengusaha dan penggiat usaha rintisan di Indonesia tidak akan kalah saing dengan pemain di tingkat regional maupun internasional. Syaratnya, tentu saja, melakukan perubahan pola pikir.

"Karena itu, kami kemudian mendirikan Blibli.com yang bukan sekedar e-commerce. Kami ingin memberi pengalaman baru (experience). Ketika kami masuk (pendanaan) di Halodoc, kami juga ingin memberi pengalaman terbaik bagi masyarakat di bidang kesehatan," lanjutnya.

Jadi, dalam membangun dan membesarkan bisnis, pesan Martin, yang terpenting bukan adopsi teknologi terbaru. Namun, apa yang ingin kamu lakukan dengan bisnis itu sendiri. Wakil Presiden Direktur BCA Armand W. Hartono yang juga hadir di tempat tersebut sepakat.

Bagi Armand, masalah dan solusi adalah dua hal yang selalu datang bergantian dalam bisnis. "Di BCA, kami selalu menentukan dan memutuskan solusinya terlebih dahulu seperti apa dan bagaimana. Setelah itu, kita melihat apa yang bisa teknologi lakukan untuk solusi itu," paparnya.