Cinta Terlarang Itu Antara Rasa Lapar dengan Hasrat Belanja (1)

belanja
belanja

Di Ramadan, umat Islam tentunya sedang menjalankan ibadah puasa. Menariknya, kondisi ini memiliki dampak yang nyata pada kebiasaan belanja muslim di Indonesia. Ternyata, perut yang kosong membuat orang lebih bernafsu dalam belanja.

Hasil riset di jurnal Proceedings of the National Academi of Science di Amerika Serikat menemukan bukti hubungan rasa lapar dengan keinginan belanja seperti tertuang dalam riset berjudul 'perut kosong berujung dompet kosong'.

Forbes memberi nama fenomena ini sebagai 'lapar belanja' (shopping hungry). Pada dasarnya, hasil riset ini menerangkan bahwa rasa lapar tak hanya mendorong nafsu manusia untuk mendapat makanan, juga mendapat produk lain, bahkan di luar kategori makanan.

Inilah penjelasan mengapa selama Ramadan, pengeluaran sebagian orang malah membengkak meski frekuensi makan berkurang. Situs perbandingan harga e-dagang Priceza Indonesia pun pernah melakukan riset internal untuk mempelajari perilaku belanja daring di Ramadan.

Hasil studi pada Ramadhan 2017 itu berhasil memberikan gambaran mengenai preferensi belanja masyarakat Indonesia. Dalam studi ini, Priceza melibatkan Elevenia, Lazada, Zalora, Bhinneka, MatahariMall, Berrybenka, Hijabenka, dan Blibli.

Seluruh e-dagang itu merilis voucher promosi khusus agar efektivitasnya bisa diukur. Hasil pertama, para konsumen lebih tertarik pada situs e-dagang yang menjual barang lintas kategori, bukan yang menjual barang spesifik.

Misal, Elevenia, Lazada, dan MatahariMall yang secara virtual menjual hampir semua barang dan mereka mendapat kunjungan relatif lebih banyak dibanding situs lain.

Di sisi lain, Hijabenka dan Berrybenka yang fokus pada produk fesyen atau Bhinneka pada produk elektronik, tak mendapat antusiasme sebesar situs lintas-kategori. Kesimpulannya, masyarakat Indonesia senang berbelanja berbagai macam barang dalam satu tempat sekaligus.

Berlanjut ke bagian kedua untuk melihat hasil selanjutnya.

MORE FROM MY SITE