Cinta Terlarang Itu Antara Rasa Lapar dengan Hasrat Belanja (2)

belanja
belanja

Kedua, pemilihan kata dan angka (wording) memiliki pengaruh yang besar pada program kampanye. Pada dasarnya, pasar lebih menyukai promosi yang melibatkan angka-angka bombastis dan menarik perhatian.

Contoh kasusnya, diskon Rp10 ribu dari Elevenia tidak mendapat respons sebaik angka 30% yang ditawarkan MatahariMall atau Lazada dengan 70% selama masa kampanye. Sederhananya, konsumen terbiasa menilai suatu program dari sampulnya.

Ketiga, Priceza juga mengungkap bahwa tidak ada hubungan erat antara kebijakan 'transaksi minimal' dengan respons konsumen daring. Kebijakan itu tidak menyurutkan minat belanja selama Ramadan. Tentunya ini menjadi kabar baik bagi para pelaku industri.

Kata lainnya, masyarakat tidak ragu belanja daring dengan anggaran yang cukup besar di Ramadan. Semua temuan itu berakar pada fenomena psikis 'lapar belanja'. Di Ramadaan, secara psikis, konsumen tak hanya ingin makanan saja, juga produk lain di luar makanan.

Menurut Co-Founder & Country Head Priceza Indonesia Bayu Irawan, dari sisi finansial, ada peningkatan daya beli masyarakat selama Ramadan. "Pemberian THR, pengalokasian bujet pengeluaran lebih besar dari bulan-bulan sebelumnya, dan banyak hal lain yang akhirnya mendorong masyarakat belanja," katanya.

Buktinya, banyak orang punya barang atau penampilan baru untuk menerjemahkan terlahirnya manusia baru usai melewati tantangan di bulan suci. Hal ini ditunjukkan melalui pembelian baju koko dan berbagai produk muslim lainnya.

Tak hanya itu, gawai (gadget) maupun mobil termasuk barang yang penjualan juga meningkat dan selalu mencapai puncak sekitar 1-2 bulan sebelum Ramadan.

MORE FROM MY SITE