Jangan Tergiur Bunga Rendah, Pilih KPR dengan Selektif (1)

Jangan Tergiur Bunga Rendah, Pilih KPR dengan Selektif (1)
Jangan Tergiur Bunga Rendah, Pilih KPR dengan Selektif (1)

Tak bisa dipungkiri, bunga menjadi faktor dalam pengambilan keputusan ketika berencana mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Tentu, bunga rendah tampak sangat menggoda. Namun, memilih KPR tak hanya sebatas melihat bunga yang diberikan.

Bank Indonesia (BI), memberikan relaksasi atas rasio kredit terhadap nilai agunan. Inilah sebab uang muka (DP) tak setinggi dulu. Langkah ini diambil agar pasar KPR kembali bergairah.

Menurut catatan BI di akhir semester pertama 2015, aturan relaksasi ini untuk KPR konvensional dan Syariah. Disebutkan, dalam PBI Nomor 17/2015 aturan ini efektif berlaku sejak 18 Juni.

LTV KPR untuk pembelian rumah pertama yang awalnya 70%, naik menjadi 80%. Artinya, DP kredit properti yang awalnya minimal 30%, kini turun menjadi 20%. Selain soal rasio kredit dari BI, bank juga menawarkan bunga rendah tersebut.

Bagi bank, KPR dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) merupakan produk andalan. Dalam jangka waktu panjang, bank akan mendapat margin tinggi dari produk tersebut. Namun harus diakui, untuk mendapat pembiayaan dari bank tidaklah mudah.

Banyak aplikasi ditolak karena calon debitur dianggap bermasalah. Salah satu cara antisipasi adalah melakukan pengecekan pada Sistem Informasi Debitur (SID) untuk mengetahui riwayat kredit macet debitur di bank.

Cara melakukannya mudah, kamu cukup menyerahkan salinan identitas diri (KTP) ke bank sentral dan pengecekan ini bersifat gratis. Menurut perencana keuangan Eko Endarto, ketika mengajukan KPR atau KPA pada bank, calon debitur perlu menegaskan komitmen dalam mencicil.

Pasalnya, pembiayaan KPR dan KPA butuh jangka panjang. Bila calon debitur tak memiliki komitmen kuat mencicil, kredit bisa bermasalah nantinya. Cicilan ini merupakan pokok pinjaman yang sudah ditambah bunga.

Selain komitmen, calon debitur juga perlu melakukan perencanaan keuangan dengan baik agar tak kesulitan di kemudian hari. Ingat juga, porsi cicilan tak boleh melebihi 30%-35% dari total pendapatan bulanan.

Bila melebihi, konsekuensinya, pembayaran cicilan akan kian sulit. Terlebih lagi, bila ada pinjaman bersifat konsumtif. Baiknya segera lunasi terlebih dahulu. Sebab, barang dari pinjaman jenis ini nilainya terus turun.

Perencana keuangan Diana Sandjaja bilang, kebutuhan produktif merupakan kebutuhan untuk mendukung hidup lebih baik. Bila ingin cicilan lebih kecil, kata Diana, DP bisa diperbesar.

Seperti diketahui, bank mewajibkan DP properti sebesar 20% dari harga rumah. Atau, tenor cicilan diperpanjang. Namun, bila menggunakan langkah ini, pikirkan usia ketika cicilan lunas. Maksimal, cicilan terakhir ketika kamu di usia 55 tahun.

Alasannya, agar masa pensiunmu tak lagi dibebani utang. Selanjutnya, pertimbangkan lokasi, fasilitas, hingga lingkungan rumah incaran. Demikian, kamu yakin bahwa rumahmu memang punya nilai jual tinggi.

"Aset properti punya kendala likuiditas, sebaiknya bukan untuk tujuan investasi jangka pendek," ujar Diana.

Berlanjut ke bagian kedua.