Kado Lebaran, Cek Sepatu Lokal yang Sering Dikira Produk Luar Ini

Ilustrasi sepatu lokal
Ilustrasi sepatu lokal

Seruan dan imbauan untuk tidak mudik karena pandemi COVID-19 membuat Lebaran tahun ini sedikit berbeda. Namun bukan anak muda Indonesia namanya kalau kehabisan akal bikin Idul Fitri tetap seru.

Sekarang zamannya video call. Silaturahmi bisa dilakukan secara online. Beli baju dan sepatu baru juga enggak harus ke mal. Kamu bisa beli online dan mengirim paket ke kampung untuk kado Lebaran. Katakan tidak pada ribet deh pokoknya.

Nah, ngomong-ngomong soal kado Lebaran buat orang di kampung, sudah kepikiran mau beli apa? Bagaimana kalau sepatu?

Untuk kamu yang setuju dengan ide ini, simak yuk rekomendasi sepatu buatan Indonesia yang sering disangka produk luar negeri berikut ini.

Keren-keren lho. Pilihan dan kegunaannya juga macam-macam. Malah ada yang khusus untuk olahraga ataupun kasual. Tapi yang paling penting, meski jelas lebih murah ketimbang sepatu merek impor, kualitasnya oke punya. Kuy simak.

Kodachi

(Sumber: Sepatukodachi.com)

Gara-gara pakai nama Jepang, banyak yang mengira sepatu ini memang dari sana. Padahal Kodachi ini murni dibuat pengusaha asal Bandung. Lagipula di Jepang, Kodachi itu sebutan untuk salah satu jenis pedang tradisional yang biasa digunakan samurai pada zaman feodal Jepang. Jadi bukan sepatu, bro.

Nah, menariknya, Youtuber dan pengusaha bergelar dokter, Tirta Mandira Hudhi, pernah mengungkap bahwa Kodachi ini punya hubungan dengan sepatu asal Cina, Warrior—dan ternyata memang benar.

Sang pengusaha Bandung tadi rupanya membeli lisensi Warrior dari Warrior Cina pada 70-an. Pembelian diikuti dengan kesepakatan bahwa Warrior Indonesia tidak boleh dijual ke luar negeri, begitu pula Warrior Cina.

Dulu, tahun 70-an, olahraga bulu tangkis sedang hype. Pengusaha itu lalu membuat sepatu bulu tangkis pada 1975. Selain itu, Kodachi juga dibuat untuk olahraga voli.

Nah, karena masyarakat Indonesia lebih minat pada sepatu luar negeri, ia sengaja memberi nama sepatunya dengan nama luar, Kodachi. Terbukti strategi itu berhasil.

Sadarkah kamu kalau sepatu ini enggak pernah menyertakan keterangan Made in Japan? Kodachi cuma mencantumkan tulisan Mode Japan atau Model Jepang. Malah biar kelihatan meyakinkan, boks sepatu dan solnya juga dilengkapi dengan tulisan-tulisan Jepang.

Piero

(Sumber: Pieroindonesia.com)

Nah, ini juga lucu. Piero muncul di tahun 90-an. Saat itu, di Italia, ada pesepak bola yang sedang jadi buah bibir, yakni Alessandro Del Piero. Tapi ternyata itu cuma kebetulan saja, Guys.

Sebab Piero ini justru diambil dari bahasa Jawa yaitu Urip yang berarti hidup. Jadi ceritanya, Piero itu kalau dibalik menjadi Oreip. Owalah.

Kalau kamu mampir ke web-nya, di sana diterangkan bahwa pendiri Piero yang berasal dari Solo, mengatakan: ‘’Sing penting urip (yang penting hidup), karena 3.000 karyawan bakal kesusahan kalau enggak urip’’.

Tapi ya itu tadi, nama Urip jelas kurang menjual. Makanya ia balik kata tersebut dan ditambahkan satu huruf, jadilah Piero.

Eagle

(Sumber: Eagle.co.id)

Seperti kita tahu, Eagle sepertinya diambil dari bahasa Inggris yang berarti Elang. Tapi meski begitu, merek sepatu yang berdiri sejak 1986 ini adalah produk dalam negeri. Eagle sendiri sempat jadi tren nasional untuk kategori sepatu sport dan lifestyle. Namun pamornya sempat hilang pada awal 2000-an.

Namun pada 2006, Eagle bangkit kembali. Mereka tidak lagi cuma menonjolkan gaya, tetapi juga kenyamanan untuk pemakainya. Kualitasnya diperbaiki dan Eagle berhasil menyabet berbagai penghargaan, salah satunya Indonesia Original Brand dari SWA Magazine pada 2011. Top!

Wakai

Mirip Kodachi, Wakai juga menggunakan bahasa Jepang. Dalam bahasa sana, Wakai artinya anak muda.

Secara konsisten, Wakai menjaga kualitas dan mutu pada setiap pengembangan produknya. Tak cuma sekadar nama, desainer sepatunya juga mengambil desain khas Jepang.

Saking totalnya, kalau kamu mampir ke gerai resmi Wakai, tampilannya itu serasa di Jepang. Malahan sampai wewangian ruangannya juga mengantar kita seolah ada di sana.

910 (Nineten)

(Sumber: 910sportswear.com)

Berikutnya ada 910 yang dibacanya Nineten. Yang bikin orang mengira ini sepatu impor adalah nama-nama varian sepatunya seperti Agito, Fujiwara, Amaru, dan semacamnya. Untuk mereka yang tidak tahu, bukan tidak mungkin mengira 910 adalah sepatu asal Jepang.

Produk 910 sendiri memang fokus pada mereka yang gemar olahraga lari. Kerap jadi pilihan banyak orang karena harganya cenderung lebih murah dibanding sepatu lari lain. Tapi bukan berarti kualitasnya bisa diremehkan ya. Malahan, 910 sempat jadi pembicaraan banyak orang saat salah satu pejabat publik, Sandiaga Uno, memakainya dalam sebuah acara.

Sebenarnya ada banyak banget sepatu lokal yang sempat dikira produk luar negeri. Sebut saja seperti Compass, Ventela, Geoff Max, Brodo, Ortuseight, Phoenix, Seji dan banyak lagi.

Compass

Sepatu Compass ini menjadi salah satu kebanggaan Tanah Air saat harganya bisa meroket tinggi macam Air Jordan-nya Nike. Keren, kan?

Enggak usah heran. Ingat Urban Sneakers Society (USS) yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu?

Di sana, pecinta sneakers berbondong-bondong menyerbu lokasi pameran untuk mendapatkan sneakers incaran mereka. Menariknya, salah satu merek yang paling diincar ternyata Compass. Malahan di antara booth brand lain seperti Adidas dan Nike, booth sepatu Compass justru paling ramai.

Compass sendiri sebenarnya sudah ada sejak tahun 1998. Jadi, di dunia persepatuan, bisa dibilang Compass bukanlah pemain baru. Namun merek Compass baru booming kurang lebih setahun terakhir, tepatnya setelah melakukan rebranding.

Mereka juga kerap menggandeng perusahaan-perusahaan untuk bekerja sama mengangkat produknya. Salah satunya PT Bank Central Asia, Tbk. Bank swasta terbaik di Indonesia ini memang komitmen mendukung para pengusaha dalam negeri dalam mengharumkan produk Tanah Air.

Brodo

Selain itu, ada juga Sepatu Brodo yang masih eksis di kalangan pecinta fashion. Beberapa orang juga sempat mengira Brodo ini merupakan merek sepatu asal luar negeri. Padahal sepatu ini asli garapan orang Bandung.

Penamaan Brodo sendiri diambil dari bahasa Italia yang artinya “kuah kaldu ayam”. Jadi dulu sang pengusaha gemar membaca sebuah komik dari Italia yang berjudul Bambino. Secara tak sengaja ia menemukan kata “Brodo” tersebut. Menurutnya, setiap masakan di Italia kalau enggak ada kuah kaldu ayam jadi rasanya enggak akan enak. Jadi harapannya, Brodo ini bisa punya citarasa tersendiri.

Sebenarnya ada banyak banget sepatu lokal yang sempat dikira produk luar negeri. Sebut saja seperti Ventela, Geoff Max, Ortuseight, Phoenix, Seji, dan banyak lagi. Hal ini membuktikan bahwa ternyata sepatu-sepatu buatan anak bangsa tak kalah keren dibanding sepatu impor.

Meski menggunakan nama asing, itu semata-mata hanya bagian dari strategi pemasaran. Yuk kita gemakan bangga memakai produk luar negeri.

Enggak usah keluar rumah buat liat-liat atau beli sepatunya. Mampir saja ke gerai online-nya atau media sosial masing-masing merek. Pembayarannya kan bisa pakai menu transfer di aplikasi seperti BCA mobile.

Aplikasi serbabisa ini memang jadi andalannya milenial untuk urusan bertransaksi. Selain simpel dan antiribet, fitur-fiturnya juga lengkap.

Klik di sini buat intip apa yang bisa dilakukan BCA mobile.