Lebih Keren dengan Buku Daripada Pakaian Mahal

Lebih Keren dengan Buku Daripada Pakaian Mahal
Lebih Keren dengan Buku Daripada Pakaian Mahal

Meski segala hal bisa kamu akses melalui gawai (gadget), namun ada beberapa hal yang tetap lebih menarik bila diakses apa adanya. Misalnya buku. Bagi mereka yang senang membaca, membaca dengan buku asli lebih menyenangkan daripada membawa buku elektronik.

Belum lagi, ada kepuasan tersendiri ketika memegang buku atau mencium bau buku baru yang sudah dibeli. Bagi salah satu penggemar buku, Diaz Abraham merasa, dengan buku ia menjadi lebih keren.

Diaz percaya, keren tak selalu diukur dari kain yang melekat pada tubuh. Bisa juga dengan menenteng buku. "Cukup bawa sebuah buku di tangan, kenakan headset, berdiri tegap dan kamu akan jadi pusat perhatian di gerbong KRL Komuter, percayalah," katanya.

Ada dua kemungkinan di benak orang yang memerhatikan kamu saat melakukan hal tersebut. Diaz bilang, bisa jadi kamu dipandang sebagai orang cerdas dan bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Pemikiran kedua, kamu adalah jenis orang pendiam, mungkin membosankan atau bahkan keren.

"Percayalah pada dua kemungkinan tadi, tingkat kepercayaan diri kamu akan lebih baik dibuatnya walaupun niat untuk menonjolkan diri demi mendapat perhatian dari lawan jenis tidak terlalu baik. Setidaknya motivasi itu bisa meningkatkan rasa cintamu pada buku serta membaca sebagai bagian integral dari perbuatan mencintai buku," katanya.

Naik satu tingkat, seandainya kamu dan lawan jenis sedang berada pada fase PDKT atau pendekatan. Ajak dia berdiskusi. Ini bisa menjadi ajang menunjukan kepintaranmu sebagai nilai tambah, karena semua orang mencintai kepintaran dan karena otaknya pula Habibie tak hanya dicintai di Indonesia.

"Selama saya hidup, tak pernah saya temui ada orang yang mencintai kebodohan. Bahkan sekolahan dibuat untuk memberangus kebodohan. Tak pernah saya dengar sekolah sebagai ajang adu gengsi soal pakaian. Nyatanya sekolah menjadi ajang unjuk kepintaran dan prestasi, makanya ada ponten, rapor, nilai merah, dan tentu saja peringkat pertama dan sebutan pertama dari belakang," ujarnya.

Kebiasaan buruk mencari perhatian lambat laun akan terkikis dengan kecintaan tulusmu pada buku. Karena bagi Diaz, ia yakin kata tak kenal maka tak sayang memang nyata adanya. Tanpa buku, lama kelamaan dunia akan terasa hampa.

Membuang waktu di kereta atau di tempat apapun tanpa melakukan aktivitas berarti membuat kamu akan merasa kehilangan sesuatu, layaknya tak mendapat pesan dari pujaan hati seharian. "Sungguh, setiap kamu yang kasmaran tak ingin mendapati kenyataan ini," katanya seperti dimuat di Kumparan.

Ketulusan untuk memiliki waktu berlama-lama dengan buku akan menutupi relung jiwa dan menghilangkan niatan cari perhatian. Jangan heran jika nantinya kamu menjadi konsumtif untuk membeli buku. Pakaian lusuh? Tak usah khawatir, katanya, seniman yang pakaiannya compang-camping juga masih bisa memiliki pasangan.

Keberadaan manusia dan buku tak bisa dilepaskan. Pepatah bilang, tuntut ilmu sampai ke negri China. Kata-kata itu punya banyak makna, salah satunya menunjukan pentingnya ilmu bagi manusia.

Cara mendapatkan ilmu salah satunya dengan membaca buku. Lagi-lagi manusia dan buku sulit bercerai. Ahli perbukuan Fernando Baez melakukan penelitian soal penghancuran buku dari masa ke masa dan hasilnya, banyak dari peradaban dunia sudah dilupakan berkat penghancuran buku serta tempat penyimpanannya.

Semua ini dilakukan sebagai penghilangan identitas dan ingatan masyarakat tentang satu era. Penghancuran-penghancuran itu juga dilakukan dengan sengaja oleh orang-orang berpendidikan. Mencermati hasil penelitian tersebut, ternyata buku dipandang sebagai satu hal yang berharga.

Keberadaan buku dipandang sebagai sesuatu yang membahayakan bagi satu rezim sehingga perlu dihilangkan atau dibelokan. Ternyata kertas yang disatukan sebagai alat kepanjangan dari pikiran manusia punya dampak luas pada satu peradaban.

"Kini, jika ada orang yang mencibirmu dengan sebutan kutu buku, sebut saja dia sebagai kutu kupret yang tak tahu bahwa salah satu sumber peradaban ada di buku! Mari kita sama-sama berfikir bahwa keren saja tak cukup dikemas dalam balutan busana, tapi otak juga musti dibalut dengan ilmu agar keren maksimal," pungkasnya.