Nasabah Bisa Hemat Biaya Administrasi Rp194,4 Miliar per Tahun dengan GPN

GPN
GPN

Di Asia, belum banyak negara yang memiliki gerbang pembayaran yang mandiri. Dalam hal ini, Indonesia berhasil menunjukkan kemandiriannya melalui implementasi sistem Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). Salah satu efek yang bisa terjadi adalah, bank maupun nasabah akan menghemat biasa administrasi.

Menurut perhitungan PT Bank Central Asia Tbk (BCA), hingga saat ini, biaya administrasi bulanan kartu debit/ATM mencapai sekitar Rp194,4 miliar per tahun. Biaya tersebut selama ini dibebankan pada nasabah. Sebab, bank masih menggunakan sistem transaksi dari perusahaan switching asing.

Kini, setelah implementasi GPN, biaya tersebut bisa dihemat. Direktur BCA Santoso memproyeksikan, penghematan yang bisa terjadi tiap bulannya adalah Rp1.000. Di BCA, jumlah kartu debit sudah mencapai 16,2 juta keping kartu.

Demikian, penghematan bisa mencapai Rp16,2 miliar per bulan. Kemudian, angka itu dikali 12 bulan dan menghasilkan Rp194,4 miliar per tahun. "Hitungannya seperti itu, itu penghematan yang timbul berkat GPN," ujar Santoso di Menara BCA, Jakarta (16/4) ketika meluncurkan Kartu Paspor BCA GPN.

Santoso melanjutkan, penghematan biaya administrasi ini bisa terjadi karena bank tak lagi membayar royalti ke principal internasional, seperti Visa dan Mastercard. Alih-alih, dibayarkan ke perusahaan switching dalam negeri.

"(Jumlah royalti yang dibayar ke prinsipal) biasanya tergantung volume. Kalau di BCA, sekitar 0,25% dari volume transaksi kartu debit. Sekarang sudah tidak ada, sudah dihapus (bila menggunakan GPN)," paparnya.

Meski demikian, Santoso mengaku bahwa penghematan ini belum sepenuhnya bisa dirasakan tahun ini. Sebab, tahun ini, target BCA adalah ada dua juta kartu migrasi ke sistem GPN dari total 16,2 juta kartu debit.

"Penghematan sepenuhnya baru bisa dirasakan setelah semua kartu debit menjadi kartu GPN. Kami harap ini bisa terjadi dalam 3-4 tahun ke depan," katanya. Selain itu, lanjut Santoso, efek penghematan belum bisa dirasakan tahun ini karena BCA masih perlu investasi untuk mengganti kartu debit lama.

Bila dihitung, BCA masih akan mengeluarkan biaya investasi untuk perubahan sistem dalam kartu sekitar US$2 juta (Rp27,4 miliar) untuk dua juta keping kartu sesuai target tahun ini. "Nilainya sekitar US$1 per kartu," imbuhnya.

Direktur Eksekutif Departemen Elektronifikasi dan GPN Bank Indonesia (BI) Pungky Purnomo Wibowo menambahkan, potensi penghematan bisa lebih tinggi karena bank tak perlu lagi mengeluarkan biaya investasi untuk menambah mesin ATM dan EDC baru karena GPN menghubungkan semuanya.

"Dari segi efisiensi, bank bisa menggunakan EDC di mana saja. Satu kartu bisa untuk EDC apa saja," pungkasnya. Pungky juga mengungkap, BI menargetkan setidaknya 30% dari total jumlah kartu debit yang diterbitkan bank sudah memasang logo Garuda di tahun ini pada 3 Mei 2018 bertepatan dengan peluncuran GPN bersama seluruh perbankan nasional.

"Targetnya 30%, namun kalau bisa lebih Alhamdullilah," katanya. Sebagai informasi, jumlah kartu debit yang beredar saat ini sebanyak 170 juta keping. Demikian, target 30% tersebut setidaknya mencakup 51 juta keping kartu.

MORE FROM MY SITE