Rumus Hidup Bahagia ala Jepang

Enggak cuma matematika yang bisa dihitung.
Enggak cuma matematika yang bisa dihitung.

Sama seperti Indonesia, Jepang juga punya kekayaan budaya yang bisa digunakan sebagai pedoman hidup. Kebudayaan Jepang mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman tanpa kehilangan identitas.

Sushi, misalnya, kini sudah menjadi ikon kebudayaan Jepang. Masakan khas Jepang ini terus berubah seiring berjalanannya waktu. Yang tadinya merupakan makanan kelas pekerja, kini menjadi makanan kelas menengah ke atas. Sushi pun tersebar ke seantero penjuru dunia.

Nah, tahukah kamu kalau dari sushi, sebenarnya tersimpan filosofi hidup yang dalam. Sushi melambangkan kesederhanaan dan minimalisme. Meski sushi berbentuk kecil, sushi tetap bisa memberikan kebahagiaan. Nah, makna kehidupan Jepang yang terdapat di sushi ini ternyata juga turut diimplementasikan sebagai cara hidup masyarakat Jepang hingga sekarang.

Di awal abad ke-20, wartawan perempuan Jepang, Hani Makoto, menciptakan metode Kakeibo agar bisa lebih hemat dalam merencanakan pengeluaran keuangan. Metode tersebut sampai saat ini ternyata masih digunakan. Bahkan, kini juga sudah dianut oleh beberapa masyarakat Amerika Serikat.

Metode Kakeibo ini bertujuan untuk mengubah secara bertahap kebiasaan-kebiasaan buruk dalam mengelola keuangan. Poin penting dalam Kakeibo ini adalah merencanakan keuangan sesuai dengan kebutuhan dan prinsip mindfulness.

Di awal abad ke-21, Jepang juga memunculkan metode hidup minimalis. Inti dari gaya hidup minimalis ini, menyetop mengumpulkan barang-barang yang enggak begitu berguna. Selain itu juga mengurangi benda-benda yang sudah tidak dibutuhkan. Bisa dijual maupun diberikan ke orang lain. Jadi, benar-benar hidup dengan barang dan benda yang memang dibutuhkan.

Dengan gaya hidup ini, kamu benar-benar fokus dengan apa yang kamu butuhkan sehingga kamu bisa terhindar dari stres. Kamu pun bisa lebih bahagia.

Kakeibo + Minimalisme = Hidup Bahagia

Saat metode Kakeibo bertemu dengan gaya hidup minimalis, berarti kamu menggabungkan seni perencanaan keuangan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan hidup dengan barang-barang yang benar-benar dibutuhkan. Kedua cara hidup ini akan saling melengkapi.

Bila hidup minimalis tanpa dibarengi seni berhemat Kakeibo, bisa saja kamu hidup dengan barang-barang mahal, tetapi tidak sesuai dengan prinsip perencanaan keuangan mindfulness. Contohnya, kamu memang punya mobil satu, tapi mobil yang kamu miliki adalah mobil mewah, seperti Alphard. Sementara, mobil lainnya kamu jual dengan dalih hidup minimalis, meski mobil itu sebenarnya masih berfungsi dengan baik.

Saat dilengkapi metode Kakeibo, kamu tetap bisa hidup minimalis tanpa tergoda dengan barang lebih mahal. Sebab, kamu masih merasa cukup dengan mobil lama karena masih berfungsi dengan baik.

Keuanganmu pun bisa dikontrol dengan baik dan kamu bisa hidup lebih mindfulness tanpa terbebani pikiran macam-macam. Dengan begitu, kamu bisa merasa puas dengan kehidupanmu. Di situlah, kebahagiaan itu dirasakan.

Bagaimana dengan kamu? Sudah merasa puas dengan kondisi keuangan dan kehidupan? Bila ingin lebih fokus pada kebahagiaan hidup, kamu bisa coba seni hidup Kakeibo dan hidup minimalis.