Sering Traveling Jadi Simbol Orang Sukses?

Ilustrasi
Ilustrasi

"Wah hebat ya dia, sering travelling ke luar negeri? Pasti dia sudah sukses deh." Pernah dengar celetukan seperti ini? Coba tanya temanmu itu, apa dia sedang mimpi di siang bolong atau tidak?

Anggapan sering travelling jadi simbol sukses memang agak mengada-ada. Jangan mentang-mentang sering jalan-jalan lalu bisa menyimpulkan bahwa dia sudah sukses.

Memang sih, dari sudut pandang generasi muda saat ini, simbol kesuksesan sering dihubungkan dengan orang yang sering ke luar negeri, punya barang-barang branded, dan beberapa hal mewah lainnya.

Padahal banyak juga di antara mereka yang sudah sering jalan-jalan tapi nyatanya punya banyak utang. Pahitnya lagi, orang tersebut ternyata tidak pernah punya tabungan khusus untuk persiapan di hari tua.

Wah, jangan-jangan ketika tua nanti ia malah susah ke mana-mana ya. Jangankan ke luar negeri, sekadar main ke luar kota saja masih berutang sana-sini.

Jauh dari itu, simbol kesuksesan seseorang sebenarnya bisa dilihat dari seberapa besar dana yang ia punya untuk hari tuanya. Maka dari itu, yang dilihat dari orang sukses justru berapa nilai investasinya.

Nah, di antara segudang investasi yang ada, kepemilikan properti seperti rumah justru menjadi salah satu kriteria lho. Nah, kamu sudah punya rumah belum?

Menurut Taufan Teguh Akbari, CEO dari platform RumahMillenials.com, kepemilikan rumah bisa menjadi bentuk capaian yang lebih meyakinkan ketimbang sudah mengelilingi dunia ataupun mengoleksi barang-barang mahal.

"Walaupun sekarang simbolnya mampu travelling dan punya barang-barang berharga, tapi kita bisa jadikan rumah sebagai simbol kesuksesan untuk anak muda," kata Taufan.

Hal ini ia ungkapkan setelah ada survei yang menunjukkan bahwa generasi milenial lebih tertarik jalan-jalan daripada berinvestasi. Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa generasi milenial tidak tertarik membeli rumah.

Namun Taufan keberatan dengan hal itu. Menurutnya, hasil survei tidak bisa jadi dasar untuk generalisasi semua kalangan milenial tidak tertarik beli rumah.

Ia lalu mencontohkan di daerah Bintaro dan Tangerang. "Banyak anak muda dan keluarga baru yang sudah menempati rumah milik sendiri," katanya.

Hanya saja ia tak lantas menampik fakta bahwa pola konsumsi generasi milenial memang perlu mendapat perhatian. Penghasilan mereka sebenarnya besar. Namun mereka tak bisa mengaturnya sehingga gajinya kerap habis tanpa sisa dan investasi.

"Dengan gaji Rp10 juta, mereka sebenarnya bisa beli banyak hal. Tapi selalu merasa kurang karena enggak terkontrol pengeluarannya. Mereka sebenarnya mampu, tapi ter-distract kebutuhan yang tidak penting," ujar Taufan.

Padahal, lanjutnya, dengan gaji Rp10 juta per bulan, 35 persennya bisa dipakai untuk membayar cicilan rumah. Ini berarti 60 persen gaji yang awalnya untuk travelling atau keperluan tak penting lainnya, perlu dikurangi lagi menjadi 25 persen.

Belum lagi membeli rumah saat ini sudah semakin mudah. Nilai uang muka atau down payment (DP) yang tadinya sampai 30 persen sekarang sudah diturunkan. Jangka waktu cicilan kredit rumah pun sudah dipermudah.

"Sekarang banyak kemudahan untuk beli rumah," ucap Taufan.

Sekarang, tinggal pilih-pilih bank yang tepat saja untuk program KPR. Cari tahu besaran bunga dan juga ketentuan tenor kredit yang sesuai dengan kondisi dan tujuan keuanganmu, seperti yang ditawarkan oleh Bank BCA.

Penasaran? Klik tautan ini kalau siap kaget dengan kejutannya.

Ingat, punya rumah itu banyak manfaatnya. Sebab, rumah adalah instrumen investasi yang relatif bagus, karena harga tanah dan properti naik terus. Kelak, rumah juga bisa diwariskan ke anak-anak kamu.

Satu lagi, punya rumah hasil jerih payah sendiri itu adalah kebanggaan yang tiada tara. Mungkin, semua karyawan di kantormu bisa beli motor. Beberapa bisa beli mobil. Tapi, berapa sih yang mampu beli rumah secara mandiri?

Inilah mengapa sebenarnya kepemilikan rumah adalah simbol kesuksesan generasi milenial.