3 Resep Transformasi Bisnis: Adaptasi, Kolaborasi, dan....

Ilustrasi
Ilustrasi

Tak ada yang bisa mengelak dari disrupsi teknologi. Perkembangannya yang pesat telah menuntut semua pelaku usaha harus melakukan transformasi bisnis.

"Kalau tidak berubah, bisnismu akan mati," begitu kira-kira kata Hemant Bakshi, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia, dalam acara BCA Young Community Confeence 2019, yang diadakan di Grand Ballroom Kempinsky, beberapa waktu lalu.

Perkembangan teknologi memang mendorong kompetisi bisnis makin ketat. Seketat celana Korea yang dipakai artis-artis Asia. Perubahan konsumen juga semakin cepat berubah. Seperti anak muda galau yang punya mimpi segudang.

Bakshi mengatakan, pelaku usaha yang tidak mampu atau bahkan tak mau melakukan transformasi bisnis, maka harus siap-siap menghadapi terjangan gelombang disrupsi.

Nah, di hadapan peserta BYC Conference 2019 yang notabene didominasi pengusaha muda bertalenta, Bakshi berbagi resep soal transformasi bisnis. Dari sekian banyak nasihat, sekurangnya ada tiga hal utama. Simak yuk.

1. Adaptasi

Yang pertama adalah adaptasi. Ini kudu dimiliki setiap pelaku usaha yang mau sukses. Ia harus punya sikap adaptif.

Toh dulu Charles Darwin saja pernah bilang kalau bukan yang terkuat, terbesar, atau terpandai, melainkan yang paling adaptif menghadapi perubahanlah yang akan dapat bertahan.

Nah, zaman sekarang, semua perusahaan konvensional sudah mati-matian beradaptasi. Kalau mereka yang sudah besar saja berjuang keras, mengapa kamu malah kembali ke zaman dulu?

2. Kolaborasi Marketing

Resep yang kedua adalah kolaborasi marketing. Ini disebut-sebut sebagai salah satu resep ampuh untuk melawan disrupsi.

Kolaborasi ini bisa dengan siapa dan apa saja. Bakshi lantas mengambil contoh dalam hal marketing yakni bekerja sama dengan media televisi untuk periklanan.

Ia mencontohkan, ketika pertama kali tiba di Indonesia 3,5 tahun yang lalu, Unilever hanya mengalokasikan 15 persen dari pengeluaran untuk iklan di platform digital. Namun, melihat tren digital yang cukup pesat di Indonesia, Unilever memutuskan untuk meningkatkan alokasi tersebut.

"Sekarang kita menghabiskan sepertiga dari dana perusahaan untuk digital," jelas Bakshi.

Meski demikian, dalam kasus Indonesia, ia menekankan pentingnya untuk masih tetap berdiri di dua area, digital dan konvensional, sebab televisi di Indonesia masih memegang sejumlah besar audiens. "Televisi masih relevan," kata Bakshi. "Kita masih harus melakukan keduanya. Namun setelah kamu mencapai jangkauan 40 persen (audiens), kamu harus menambah mediumnya."

3. Berbagi

Nah, ini dia resep yang cukup mengejutkan. Meski sebenarnya banyak resep lainnya yang disampaikan, namun Smart Money memilih "berbagi" sebagai resep yang unik yang diberikan Bakhsi.

Menurutnya, setiap pelaku usaha harus memiliki sikap untuk selalu berbagi dalam menghadapi era digital yang serba terbuka. Berbagi bukan hanya soal materi, namun juga soal pengalaman dan pengetahuan. Berbagi juga bukan hanya dalam ruang lingkup media sosial, namun juga pertemuan dan tatap muka langsung.

Nah, BYC Conference 2019 mungkin menjadi salah satu wadah terbaik untuk berbagi. Ini, menurutnya, juga menjadi kegiatan yang menarik.

Sebab, di acara inilah para pemimpin teknologi dan bisnis saling berbagi ide, gagasan, dan pengalaman tentang bagaimana mengakselerasi pertumbuhan bisnis serta mengetahui cara agar perusahaan dapat bertransformasi dan beradaptasi dengan lebih cepat dengan memanfaatkan teknologi.

Bakshi memang sering melakukannya. Ia kerap hadir dalam berbagai acara serupa. Nah, menariknya, justru berbagi rupanya bisa menjadi ajang untuk mengenalkan produk pada khalayak, sekaligus menunjukkan bahwa bisnisnya berjalan dengan begitu baik.

Wah, cerdas juga ya. Jangan-jangan resep terakhir ini bisa jadi resep jitu lho untuk menarik hati konsumen sekaligus investor.