4 Jalan Keluar dari Jeratan Utang

Ilustrasi
Ilustrasi

Siapa sih enggak mau keluar dari jeratan utang. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, di mana mungkin beberapa di antara kita mengalami penurunan penghasilan.

Utang sendiri memang tidak melulu negatif. Sebab ada juga yang disebut utang produktif yang biasanya digunakan untuk menjalankan usaha atau membeli sesuatu/aset yang punya nilai di masa depan.

Lalu bagaimana bila kita terlanjur memiliki utang? Lari?

Dalam SmartTalk bertajuk Investasi di Rumah Aja yang diadakan Smart-Money.co bersama BCA dalam rangka memperingati Bulan Inklusi Keuangan, Head of Mutual Fund Distribution Eri Kusnadi mengatakan untuk terbebas dari jeratan utang justru bukan dengan menghindarinya.

“Jangan lari dari utang karena justru hanya membuatnya semakin menjadi beban,” katanya, Selasa (20/10).

Menurut Eri daripada lari, hadapilah dengan strategi-strategi berikut.

Kurangi pembelian secara kredit

Salah satu alasan orang terjerat utang adalah mudahnya ia membeli barang secara kredit. Bukan enggak boleh, tapi sebaiknya dilihat dulu apakah barang yang dibeli memang mendesak atau tidak.

Gunakan fasilitas kredit atau cicilan hanya untuk barang yang nilainya besar dan bukan tergolong untuk keperluan konsumtif. Ingat, cicilan itu untuk mengatur cashflow, bukan untuk senang-senang.

Buat daftar utang

Cara ini biasanya ampuh untuk menahan hasrat agar tidak menambah utang. Cobalah urutkan utang dari yang waktu jatuh temponya terdekat dan bunga utangnya paling tinggi terlebih dahulu. Buat prioritas mana yang dilunasi duluan agar bunganya tidak menumpuk dan semakin menjeratmu.

Terapkan sistem budgeting

Biasanya orang terjerat utang karena tidak menerapkan sistem budgeting yang baik. Cara membuatnya enggak susah kok. Kamu bisa memulainya dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran dan penghasilan selama enam bulan terakhir dan membaginya menjadi enam. Nah, hasilnya itu adalah rata-rata pengeluaran dan penghasilanmu per bulan.

Selanjutnya, kamu tinggal mencari dan menandai pengeluaran yang sifatnya tidak esensial, misalnya beli baju, jajan kopi di kafe, makan di restoran, dan lainnya. Dengan mengurangi pengeluaran yang tidak diperlukan kamu dapat menghemat uang yang dapat dijadikan dana darurat. Jadi ketika ada hal yang mendesak, dana darurat tersebut bisa digunakan ketimbang harus berutang.

Optimalkan formula 50-30-20

Formula 50-30-20 sebenarnya cukup bagus untuk menjaga keuanganmu tetap sehat. Formula 50 persen untuk kebutuhan, 30 persen kewajiban, dan 20 persen untuk investasi. Hanya saja memang, saat utang sudah menjerat, membuat porsi utang (kewajiban) melebihi 30 persen. Artinya formula ini jadi tidak bisa berjalan.

Nah menurut Eri untuk menutupi kewajiban itu tadi, sebaiknya jangan memotong porsi untuk investasi. Sebab investasi harus tetap dijalani demi masa depan yang lebih terjamin.

Kamu bisa mengambil porsi kebutuhan dengan sejumlah penyesuaian gaya hidup. Misalnya jika tadinya hiburan masuk dalam anggaran kebutuhan, kamu bisa menundanya dulu hingga keuangan membaik. Apalagi sekarang juga masih dalam masa pandemi.

Intinya, tetaplah disiplin pada investasi. Sebab investasi justru menjadi cara terbaik untuk mengelola keuangan.

Mau tahu pilihan investasi yang cocok untuk kamu? Klik di sini.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.