Biar Gaji Karawang, Kalau Enggak Bisa Atur Duit ya Sama Aja

Jakarta bukan daerah dengan UMK tertinggi.
Jakarta bukan daerah dengan UMK tertinggi.

Belum lama ini, tagar Gaji Karawang trending di media sosial. Kalangan warganet banyak membahas soal kenaikan gaji yang bakal diterima pada 2021 nanti.

Dilansir dari laman humas.jabarprov.go.id., upah minimum kabupaten/kota (UMK) di Jawa Barat yang tertinggi memang Karawang. Mulai 1 Januari 2021, UMK di kabupaten ini naik dari Rp4.594.324,54 jadi Rp4.798.312,00.

Tidak hanya di Jawa, UMK Karawang ini jadi yang tertinggi secara nasional. Spontan saja hal ini mengundang banyak komentar dari warganet.

Beberapa ada yang berkomentar dan membayangkan betapa enaknya mendapat gaji dengan standar UMK Karawang. Pasti bisa beli ini, beli itu, tanpa khawatir enggak bisa makan.

Ada lagi yang berkomentar tinggal di Karawang itu asyik. Suasananya masih alami, sawah masih banyak membentang, dan mudah menemukan kebun singkong, kebun pisang, dan lainnya. Karena itu, mereka pun beranggapan harga kebutuhan pokok di sana pasti lebih murah.

Menariknya, hanya Jakarta dan Surabaya yang berstatus ibu kota dan masuk 10 besar UMK tertinggi. Malah angka gaji di ibu kota lain masih di kisaran Rp3 jutaan.

Di tempat kedua setelah Karawang ada Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi dengan Rp 4.782.935,64 dan 4.791.843,90. Sementara DKI Jakarta berada di posisi 4 dengan Rp4.416.186 dan Surabaya ada di peringkat 6 dengan Rp4.300.479.

Percuma Kalau Cuma Lewat

Namun, gaji tinggi tentu akan tetap percuma bila tidak dibarengi dengan pengelolaan keuangan yang baik. Tidak menjamin juga kamu yang bekerja di Bandung (UMK Rp3.742.276,48) tabungannya akan lebih sedikit dari pekerja di Karawang. Semua itu bergantung pada kemauan dan komitmen dari individu masing-masing.

Seperti dilansir dari Lifehack, ada banyak hal yang membuat orang selalu kehabisan gaji meski pendapatannya naik. Apa saja? Simak yuk.

1. Standar Hidup Harus Naik

Sebenarnya tak salah juga bila kamu menaikkan standar hidup saat gajimu naik. Misalnya, kalau tadinya naik commuter line, sekarang naik transportasi online dari rumah. Kalau tadinya bawa bekal, sekarang pasti makan di restoran atau kafe.

Itu hak kamu. Namun kalau kamu melakukannya, bukankah kamu justru mengulangi kesalahan yang sama saat gaji belum naik dulu?

Ambil contoh, gajimu sebelumnya Rp4 juta. Kemudian setelah kamu bagi-bagi, ternyata kamu enggak punya jatah untuk menabung karena semua habis untuk kebutuhan dan tagihan.

Kemudian gaji kamu naik jadi Rp4,7 juta. Tapi gaya hidup kamu ikut naik dengan sering ke kafe, rutin beli barang baru, dan lain-lain yang jumlahnya mencapai Rp700 ribu. Akhirnya, jatah menabung pun kembali tidak ada.

Nah, mau sampai kapan kamu enggak punya tabungan?

2. Hanya Fokus Pada Bulan Ini

Riset menunjukkan masih banyak orang berpikir rezeki bulan ini, untuk bulan ini. Rezeki nanti ya bagaimana nanti saja. Pola pikir inilah yang membuatmu terjebak enggak punya tabungan.

Masa depan itu enggak ada yang tahu, Guys. Kita enggak tahu kapan terkena musibah dan kapan memerlukan biaya besar. Jika tidak ada tabungan, maka kamu akan terpaksa berutang dan membuat pengeluaranmu bertambah. Dan bila pada masanya kamu kehilangan pendapatan, hidupmu bisa berantakan.

3. Terlalu Awal untuk Menabung

Mirip dengan pola pikir di atas, banyak anak muda berpikir menabung itu bisa nanti-nanti saja. Padahal menabung sekarang dengan menabung 10 tahun lagi, efeknya akan berbeda.

Ambil contoh kamu ingin membeli rumah 3 tahun lagi. Lalu harga rumah yang kamu inginkan di kisaran Rp500 juta. Bila kamu beli dengan skema KPR, ada kewajiban membayar DP sebesar 10 persen di awal. Maka setidaknya kamu butuh Rp50 juta untuk DP, belum termasuk biaya-biaya lainnya.

Nah, jika tadi kamu enggak menabung, bagaimana caranya membayar DP? Bahkan menabung selama 3 tahun dengan asumsi Rp700 ribu yang diambil dari selisih kenaikan gaji tadi, kamu baru mengumpulkan Rp25 jutaan saja. Jadi tidak ada istilah menabung terlalu awal ya.

4. Tidak Punya Perencanaan Keuangan

Ini jadi penyakit banyak pekerja di Indonesia. Banyak yang masih tidak punya catatan penggunaan uang. Sebagian merasa tahu dan sadar dari mana uang masuk dan ke mana uang keluar tanpa harus mencatatnya. Faktanya, banyak yang tidak tahu mengapa uangnya selalu habis di tengah bulan.

Selain pencatatan, banyak orang enggan membuat anggaran. Padahal membuat anggaran merupakan pondasi untuk sukses dalam perencanaan keuangan. Tanpa penganggaran, kamu akan dengan mudahnya sembarangan memakai uang.

Waktunya Berubah

Yuk berubah. Tak ada ruginya kok mempertimbangkan masa depan dengan menabung. Sekarang menabung sudah jauh lebih mudah.

Tidak ingin tabugan biasa? Kamu bisa mengandalkan Tahapan Berjangka di BCA. Setorannya murah, mulai Rp500 ribu dan bisa ditambah sesuai kemampuan (kelipatan Rp50 ribu). Suku bunganya juga lebih tinggi dari tabungan biasa.

Sistemnya juga autodebet dari rekening sumber dana. Sehingga akan melatih kamu disiplin terhadap uang karena di Tahapan Berjangka kamu tidak dapat mengambil uang sesukamu.

Cara buka Tahapan Berjangka juga mudah. Cukup dari HP saja lewat KlikBCA.

Klik caranya di sini.

Mau yang potensi pendapatannya lebih besar? Ya berinvestasi. Kamu bisa pilih Reksa Dana, Obligasi, atau lainnya.

Nah, untuk ini, silakan mampir ke tautan ini untuk Solusi Investasi yang paling cocok untuk kamu.

Yuk jadi generasi yang pintar mengatur keuangan. Gaji berapapun, pasti bisa punya tabungan.

Sebagai penutup, yuk simak:

10 Besar UMK Nasional

1. Kabupaten Karawang Rp 4.798.312

2. Kota Bekasi Rp 4.782.936

3. Kabupaten Bekasi Rp 4.791.844

4. Provinsi DKI Jakarta Rp 4.416.186

5. Kota Depok Rp 4.339.515

6. Kota Surabaya Rp 4.300.479

7. Kabupaten Gresik Rp 4.297.030

8. Kabupaten Sidoarjo Rp 4.293.581

9. Kabupaten Pasuruan Rp 4.290.133

10. Kabupaten Mojokerto Rp 4.279.787

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.