Buat Anak Muda, Jangan Tunda Investasi Hingga Puncak Karier (1)

karyawan muda
karyawan muda

Manusia memiliki keterbatasan untuk melakukan perencanaan atau kalkulasi keuangan untuk jangan panjang. Terlebih lagi, bila orang itu kurang memahami kelola uang, proses mengamankan masa depan akan semakin tidak terpikirkan. Ada pula mereka yang sadar namun menunggu karier berada di puncak terlebih dahulu.

Mengutip Kontan, karyawan swasta Dian Hapsari paham mengenai investasi. Namun, empat tahun menjadi karyawan tak membuatnya lantas berinvestasi. Menurut wanita usia 26 tahun itu, investasi seperti menabung namun untuk jangka panjang seperti biaya nikah, pendidikan anak, dan pensiun.

Alasan Dian tak kunjung berinvestasi adalah karena memikirkan risiko investasi. “Belum menemukan produk investasi yang tepat. Masih terlalu banyak memikirkan risiko. Takut salah pilih produk investasi,” katanya. Meski demikian, Dian mengaku tertarik berinvestasi reksa dana.

Hanya, Dian masih belum paham alur kerja reksa dana. “Masih takut kena tipu juga. Takut penyedianya bodong,” kata Dian. Perencana Keuangan Finansialku.com Melvin Mumpuni bilang, ada fakta bahwa delapan dari 10 karyawan muda (milenial) belum berinvestasi meski sudah tahu manfaatnya.

Menurut pengamatan Melvin, ada lima faktor penyebab karyawan muda enggan investasi. Pertama, modal besar. Banyak karyawan menganggap investasi hanya untuk orang kaya karena butuh modal besar. Bahkan, ada yang mengaku beralasan gajinya kecil sehingga sulit investasi.

“Justru karena gaji masih kecil, harus menambah penghasilan. Investasi adalah satu dari tiga cara menambah penghasilan,” kata Melvin. Kedua, risiko tinggi. Banyak karyawan muda berpikir risiko investasi tinggi. Memang, semua produk investasi punya risiko.

Namun, Melvin menegaskan, tidak berinvestasi juga memiliki risiko. Misalnya, tidak bisa mengejar tujuan keuangan jangka panjang. Ketiga, investasi pasti rugi atau uang hilang. Padahal, kata Melvin, ketika karyawan muda mendiamkan uang di tabungan, nilai uang akan tergerus inflasi.

Hal ini akibat bunga tabungan yang kecil yang kalah dengan laju inflasi. Sebagai gambaran, tahun lalu inflasi mencapai 3,61% dan bunga tabungan masih di kisaran 1%. Keempat, ada banyak biaya tambahan. Melvin menjelaskan, tak semua produk investasi mengenakan biaya tambahan.

Meski, sebagian besar memang memungut biaya administrasi, platform, data, dan lain sebagainya. Kelima, uang tidak bisa diambil sewaktu-waktu. Kenyataannya, kata Melvin, banyak produk investasi bisa dicairkan sewaktu-waktu seperti reksa dana yang bisa cair dalam sehari setelah beli.

Bila kamu masih enggan investasi, Melvin menyarankan, ketahui lebih dulu tujuan masa depanmu. Misalnya, biaya pernikahan atau uang muka kredit pemilikan rumah (KPR). Tujuan itu bisa jadi motivasi untuk investasi. Selanjutnya, tingkatkan pengetahuan soal produk investasi untuk mengejar tujuan itu.

Berlanjut ke bagian kedua untuk pembahasan lebih lanjut.