Jangan Panik Menata Ulang Portofolio Karena BI Rate Naik

investasi
investasi

Kondisi pasar yang sedang volatil ditambah keputusan Bank Indonesia yang memutuskan menaikkan suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 25 basis points menjadi 4,75% pada pekan lalu sempat membuat investor mempertimbangkan menata ulang portofolio. Tepatkah?

Salah satu alasan bank sentral menaikkan BI 7DRR adalah untuk menjaga stabilitas rupiah. Pelemahan rupiah yang masih berlanjut dikhawatirkan semakin dalam jelang kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve pada pertengahan Juni mendatang.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich kepada Kontan menilai, sebenarnya, kenaikan BI 7DRR sebesar 50 bps di tahun ini memang sudah dinanti pelaku pasar.

"Putusan ini dianggap positif karena BI dinilai proaktif mengantisipasi kenaikan Fed Fund Rate ke depan dan menunjukkan upaya lebih besar untuk menjaga stabilitas rupiah," kata Farash.

Bila kenaikan suku bunga acuan berhasil meredam volatilitas rupiah, Farash bilang, ini akan menjadi angin segar bagi instrumen investasi seperti obligasi, saham, maupun instrumen turunannya seperti reksa dana.

Kondisi rupiah yang stabil berpotensi menarik kembali minat investor asing masuk ke surat utang negara (SUN) maupun obligasi korporasi domestik. Head of Investment Syailendra Capital Enry Danil menilai, kenaikan suku bunga acuan akan mendorong imbal hasil obligasi dalam negeri naik lebih tinggi dan mendorong inflow.

Meski demikian, Enry mengatakan, investor tetap perlu waspada pada kuatnya sentimen eksternal yang berpotensi menahan perbaikan pasar obligasi dalam jangka pendek hingga menengah.

Selain ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan potensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang masih membayangi, kondisi pasar global juga sedang tertekan krisis di Italia.

"Sentimen ini cukup kuat dan besar kemungkinan kita akan terkena imbasnya," tutur Enry. Farash sepakat, sentimen eksternal dari AS masih dominan dan sejauh ini sudah sangat menekan pasar obligasi maupun saham dalam negeri.

Dana asing masih berpotensi keluar dari emerging market menuju pasar aset safe haven. "Isu Italia akan menambah tekanan," katanya. Namun, investor sebaiknya tidak buru-buru berubah haluan. Farash dan Enry menyarankan untuk wait and see sebelum menyusun ulang portofolio investasi.

"Lihat dampaknya ke rupiah dulu. Kalau berhasil stabil, baru akan positif juga untuk obligasi dan reksa dana pendapatan tetap," kata Farash. Enry pun optimistis, pasar modal Indonesia mampu menghadapi tekanan eksternal yang semakin kuat.

"Kita sudah lebih matang secara fundamental, dari sisi inflasi yang terjaga dan cadangan devisa yang lebih baik. Asal rupiah stabil, inflow akan terjadi lagi," pungkasnya.

MORE FROM MY SITE