Mencari Keuntungan Ketika Bursa Melemah

Mencari Keuntungan Ketika Bursa Melemah
Mencari Keuntungan Ketika Bursa Melemah

Pasca terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat (AS), investor harus meracik ulang portofolionya. Hal ini juga merupakan dampak pergerakan saham domestik.

Seperti diketahui, Indeks Harga Saham (IHSG) ditutup melemah 2,22% di perdagangan Senin (14/11). Trump Effect menjadi alasan investor meracik ulang portofolio. Hanya, sejumlah trader dan investor senior menganggap kejatuhan IHSG justru jadi peluang menggali keuntungan.

Trader Prodjo Sunarjanto misalnya. Ia tetap ambil posisi buy on weakness untuk saham tertentu. Prodjo yang bermain saham sejak 1992 itu menilai, penurunan IHSG hanya syok sesaat. Sebagai seorang pengusaha, ia yakin Trump pro bisnis.

"Saya yakin ini temporer. Justru bagi yang berani berspekulasi, saatnya ambil kesempatan," ujarnya. Prodjo memilih trading jangka pendek saham yang terkena angin segar, termasuk saham batubara seperti ADRO dan BUMI.

Tapi ia mengingatkan, kesempatan ini hanya jangka pendek. "Tidak bisa ditahan lama, karena tetap berisiko," imbuh dia. Agar aman, Prodjo menyebar portofolionya ke sejumlah sektor, termasuk bank dan konstruksi, seperti WIKA, WSKT dan WTON.

Saat indeks volatil, Prodjo tak banyak menyimpan dana kas. Apalagi imbal hasil deposito belum menarik. Ia optimistis IHSG bisa ditutup ke 5.500 di akhir tahun.

Di sisi lain, investor senior Soeratman Doerachman menyebut, penurunan ini jadi kesempatan mendapatkan saham bagus dengan harga murah. Saham menarik baginya dari sektor bank seperti BBRI dan BMRI yang sedang terkoreksi.

Saham KLBF, UNVR, TLKM, WSKT, WIKA, LPCK, PWON juga ia anggap menarik. Pria yang menginjak 70 tahun itu lebih suka investasi jangka panjang. Dalam portofolionya, cuma 5% dari total dana yang ia gunakan sebagai trading jangka pendek .

Ia hanya mencari saham blue chips yang aman dan bagus dalam jangka panjang.