Mengatur Keuangan Pakai Formasi Sepak Bola

Formasi keuangan ala formasi sepak bola
Formasi keuangan ala formasi sepak bola

Sebuah taktik atau formasi merupakan salah satu unsur terpenting dalam pertandingan sepak bola. Tapi tahukah kamu kalau formasi di sepak bola itu ternyata bisa kita terapkan untuk formasi mengatur keuangan? Kita simak yuk.

Di sepak bola, ada berbagai macam formasi. Ada yang klasik 4-4-2, bertahan 5-3-2, menyerang 3-4-3, atau yang kekinian seperti 4-2-3-1, 4-3-2-1, dan banyak formasi lainnya. Semua itu punya gaya dan ciri khas masing-masing.

Namun ada satu formasi yang mengingatkan orang pada era awal 90-an, saat trio Belanda, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit memperkuat AC Milan, yakni formasi 4-3-3.

Formasi ini identik dengan penyerangannya. Maka dari itu, trio strikernya juga memegang peran besar.

Nah, kembali ke soal mengatur keuangan. Formasi 4-3-3 ini ternyata ampuh juga untuk kita implementasikan untuk formasi keuangan.

Persis seperti yang ditunjukkan BCA Sekuritas dalam akun Instagramnya. Coba lihat di bawah ini.

Dalam formasi itu, disebut 40 persen untuk konsumsi yang meliputi kebutuhan utama seperti makan, transportasi, pulsa dan lain-lain. Sedangkan 30 persen ditujukan untuk bayar kewajiban seperti tagihan listrik, air, ataupun cicilan lainnya.

Nah, di bagian penyerang, 30 persen untuk menabung dan berinvestasi. Bagian ini pun jadi hal terpenting untuk menjaga kondisi keuangan kita hingga masa depan.

Sebab jika kamu bisa disiplin dengan formasi ini, dalam setahun saja sejatinya kamu sudah bisa mengumpulkan dana tiga kali lipat dari pendapatan kamu. Asyik, kan?

Sayangnya….

Belum semua orang bisa disiplin pada uangnya. Malahan data dari Bank Indonesia, anggaran untuk konsumsi mencapai 67,3 persen. Sedangkan untuk bayar cicilan 20,3 persen dan tabungan serta investasi cuma 12,3 persen. Wah, kalau begini formasinya jadi 6-2-1 dong? Ini sih kartu merah satu orang namanya.

Lalu apa yang perlu kita lakukan? Kamu bisa memperbaikinya dimulai dari mengubah gaya hidup. Latih diri untuk tidak mudah tergoda pada pola hidup boros. Bila anggaran konsumsi sudah habis, jangan mengambil jatah untuk tabungan dan investasi. Tahan keinginanmu belanja di luar anggaran.

Beberapa orang cenderung boros karena terjebak FOMO, alias Fear of Missing Out terhadap suatu barang atau tren tertentu. Padahal, belum punya apa-apa di saat yang lain sudah mulai punya rumah, tabungan, dan investasi lebih enggak enak, lho.

Yuk, ubah gaya hidup boros kita. Jadilah generasi yang melek keuangan dan tahan banting terhadap godaan buang-buang uang.

Terapkan taktik dan formasi yang benar. Jika 4-3-3 dengan 30 persen untuk tabungan dan investasi masih terasa berat, kamu bisa menggunakan 4-4-2 dulu.

Nanti ketika kondisi keuangan sudah semakin baik, naikkan porsi investasi perlahan sehingga hasilnya nanti akan jauh lebih baik lagi.

Bagaimana, siap untuk menabung dan berinvestasi?

Klik di sini untuk solusi investasi yang cocok denganmu.