Mimpi Punya Rumah Bisa Sia-sia Kalau Kamu Tidak Berubah

Ilustrasi
Ilustrasi

"Mumpung masih muda, senang-senang saja dulu. Urusan nanti gampang, deh." Begitulah kira-kira perspektif sebagian anak muda. Padahal jika kamu mau bersusah payah dulu bersenang kemudian akan ada manfaat yang lebih menguntungkan lho.

Kita ambil perumpamaan dari kisah Ramadhana Yulianto, pria berusia 22 tahun yang baru bekerja 9 bulan di salah satu perusahaan swasta. Sejak awal, ia rajin menyisihkan sebagian penghasilannya untuk tabungan dan uang muka kredit pemilikan rumah (KPR) serta biaya menikah.

Tak tanggung-tanggung, Nana, sapaannya, menyisihkan 60% gajinya dari profesi editor. Nana lebih memilih menabung karena ia menilai tempat tinggal menjadi salah satu modal penting dalam hidup berkeluarga.

"Bisa juga sebagai daya jual laki-laki buat menikah," katanya yang memasang target menikah di usia 27 tahun.

Namun jangan salah, meski memberi porsi besar untuk menabung, Nana masih bisa memenuhi gaya hidupnya baik untuk liburan ataupun nonton konser di luar negeri kok.

Caranya, Nana punya dua rekening.

"Satu rekening untuk cash flow, satu rekening untuk tabungan. Untuk rekening tabungan, saya meninggalkan kartu ATM di rumah dan tak memiliki mobile atau internet banking untuk menghindari pengeluaran yang tidak seharusnya," ungkapnya. Sebaliknya, rekening untuk cash flow ia lengkapi dengan berbagai aplikasi yang memudahkan transaksi.

Bisa seperti Nana?

Sayangnya, tak banyak anak muda yang sudah bekerja bisa menabung untuk membeli rumah seperti Nana, sekalipun memiliki gaji yang besar. Kebanyakan lebih mementingkan kebutuhan untuk gaya hidup, bahkan sampai terjerat utang.

Padahal, data Rumah123.com dan Karir.com, pengelolaan keuangan sudah semestinya menjadi prioritas dan perhatian serius kaum muda yang bekerja. Hasil riset ini menunjukkan, hanya 17% kaum milenial yang lahir antara 1981-1994 bisa membeli rumah dengan mencicil. Itu pun rumah dengan harga di bawah Rp300 juta per unit.

Pendapatan rata-rata milenial di Indonesia adalah Rp6,07 juta per bulan. Sementara untuk bisa mencicil rumah di Jakarta dan sekitarnya butuh penghasilan setidaknya Rp7,5 juta per bulan.

Temuan berikutnya lebih mengernyitkan dahi lagi. Diprediksi pada 2021 mendatang, semua generasi milenial yang bekerja dan bermukim di Jakarta terancam tak bisa membeli rumah, termasuk yang berpenghasilan Rp7,5 juta. Waduh.

Ramalan itu bertolak dari kenaikan gaji yang rata-rata hanya 10% per tahun, sedangkan kenaikan harga rumah mencapai 20%. Ini dia gap yang harus diperhatikan kamu.

Sebab, untuk harga rumah Rp750 juta akan memaksa kamu membayar cicilan Rp5,6 juta per bulan. Artinya, ini sudah di atas batasan cicilan maksimal 30% dari penghasilan.

Sudah, stop dari sekarang kebiasaan burukmu menghamburkan uang untuk foya-foya. Yuk mulai menabung untuk DP rumah.

Untuk penyemangat kamu, coba deh simulasikan kemampuan kamu membeli rumah sekarang. Klik tautan ini untuk mencoba simulasinya. Semangat ya.