Panic Buying, Penyebab Enggak Bisa Saving?

Ilustrasi
Ilustrasi

Sudah enggak panic buying lagi, kan? Apa masih? Atau enggak tahu kamu tergolong panic buying atau enggak? Waduh, kita lanjut baca dulu yuk.

Sekitar tiga bulan lalu, sebelum masyarakat Indonesia heboh soal new normal, ada fenomena yang lumayan jadi momok di kalangan orang kota dan sekitarnya. Fenomena itu bernama panic buying.

Singkatnya, panic buying ini terjadi lantaran banyak yang ketakutan bakal kehabisan bahan pangan karena adanya virus korona. Mereka takut semua bahan pokok ludes. Mereka takut semua barang belanjaan mahal. Mereka takut korona bakal makin parah hingga beberapa tahun.

Karena kesimpangsiuran informasi, ada segelintir orang yang melakukan aksi belanja dengan panik. Mereka borong segala keperluan. Dan sayangnya, aksi mereka ini malah menular bahkan hingga ke kalangan intelektual.

Jadi bisa disimpulkan, mereka yang melakukan panic buying ini adalah orang yang memang takut atau orang yang memang serakah.

Habis coba lihat akibat dari adanya panic buying. Harga kebutuhan kesehatan tiba-tiba menggila. Masker, vitamin, hand sanitizer, bahkan jahe merah ikutan naik dan melangka.

Padahal kalau dipikir-pikir. Panic buying yang mereka lakukan ini justru merusak saldonya sendiri. Untuk mereka yang takut, keuangannya jadi berantakan gara-gara kebanyakan borong tisu—yang padahal tisu enggak bisa mencegah korona.

Untuk mereka yang serakah juga sama. Mereka menimbun masker sebanyak-banyaknya untuk dijual lagi dengan harga yang mahal. Coba lihat sekarang, harganya kembali normal dan tentu saja mereka rugi besar.

Kesimpulan sementara, panic buying itu ujung-ujungnya cuma penyesalan, Brother-Sister. Pokoknya sangat tidak dianjurkan karena akan mengganggu keuanganmu.

Lagian belum tentu juga barang yang kamu beli itu benar-benar berguna dan menguntungkan. Jangan-jangan malah cuma jadi penghuni gudang atau busuk di makan waktu saja.

Seandainya…

Coba seandainya kita enggak ikut-ikutan panic buying. Bisa jadi kita masih punya persediaan uang untuk ditabung. Minimal buat dana darurat deh.

Tapi memang, dalam sebuah Webinar bertajuk COVID Survival Business Forum yang diadakan Kompas bersama BCA dan Citilink, panic buying disebut sebagai salah satu penyebab orang meninggalkan kepentingan saving.

Hal ini disampaikan Dian Gemiano, Chief Marketing Offier KG Media yang melaporkan riset yang dilakukan Kompas belum lama ini. Ia menyebutkan lima sektor bisnis yang terdampak COVID-19.

“Ada travel, pariwisata, restoran, perfilman, dan savings,” katanya.

Menurutnya, lantaran orang panik dan mulai membeli banyak vitamin, healthcare, makanan, dan lain-lain, banyak yang malah melupakan saving. Harusnya hal ini jangan terjadi.

Malahan ada yang sampai menggunakan dana daruratnya untuk membeli barang kebutuhan yang dia sendiri sebenarnya belum tahu apakah barang tersebut bersifat darurat atau tidak. Waduh, padahal menggunakan dana darurat untuk sesuatu yang tidak darurat adalah salah besar.

Maka dari itu, dilansir dari dw.com, panic buying ini sama saja hilangnya sense of control. Artinya jika kita panik, kontrol pada segalanya, termasuk keuangan bisa jadi hilang.

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Cerdaslah dalam berbelanja.

Sebelum kamu pergi belanja, buatlah perhitungan terlebih dahulu. Ada berapa anggota keluarga di rumah, biaya yang tersedia, dan waktu perkiraan belanjaan kamu akan habis. Buatlah daftar belanja untuk memastikan barang yang dibeli sesuai dengan yang dibutuhkan.

Perencanaan ini berguna supaya kamu mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkan. Selain itu, karena panic buying adalah tindakan yang impulsif, perencanaan juga membantu kamu untuk meredam kepanikan tersebut. Jadi jangan ikutan panik, meski katanya panic buying itu menular.

Jadi balik lagi ke kalimat pembuka di artikel ini, apakah kamu enggak sengaja melakukan panic buying? Jawabannya lihat di ketersediaan tabungan dan dana darurat kamu. Lihat, apakah kamu masih bisa menabung.

Kalau belum, sekarang belum terlambat kok. Daripada ikut-ikut beli barang yang enggak terpakai saat pandemi, lebih baik ditabung untuk dana darurat.

Caranya ada macam-macam. Salah satunya kamu bisa memanfaatkan tabungan berencana seperti Tahapan Berjangka di BCA. Soalnya setoran awalnya ringan banget, mulai Rp500 ribu per bulan. Sudah begitu fleksibel juga karena bisa kamu tambah sewaktu-waktu saat ada uang lebih.

Lagian suku bunganya juga di atas tabungan reguler, kok. Lebih untung, kan daripada simpanan biasa. Enaknya lagi, semuanya bisa dilakukan via KlikBCA #diRumahAja.

Coba klik di sini untuk lihat cara buka Tahapan Berjangka BCA melalui KlikBCA.

Pastikan dulu fitur finansial kamu sudah aktif. Segera aktivasi KlikBCA kamu di sini.