Ada yang Gugur Ada yang Bertahan, E-dagang 2017 yang Menantang (2)

Ada yang Gugur Ada yang Bertahan, E-dagang 2017 yang Menantang (2)
Ada yang Gugur Ada yang Bertahan, E-dagang 2017 yang Menantang (2)

Menurut data Indonesia E-Commerce Association (idEA), barang terlaris di e-dagang Indonesia ada tiga, fesyen, gawai (gadget), hingga tiket perjalanan. Menurut ketua idEA Aulia Marinto, produk elektronik akan memiliki peluang besar untuk terus tumbuh di tahun depan.

Produk elektronik di luar gawai, utamanya produk elektronik rumah tangga. Selain produk baru, cepatnya perputaran barang bekas juga bisa menjadi salah satu pendorong e-dagang di Indonesia. Dalam hal ini, OLX menjadi primadonanya.

"2016 adalah tahun burung. Banyak yang mengiklankan burung, bisa sampai 200 ribu penjual dengan harga di atas Rp 100 juta. Saya sendiri tak mengerti mengapa sangat mahal. Tapi, itu adalah tren di e-dagang. Tiap tahun ada tren baru dan kita lihat di 2017 nanti," ungkap Daniel.

Khusus segmen barang bekas, tantangan yang ada berbeda dengan pemain marketplace atau ritel daring penjual produk baru. Menurut Daniel, tantangannya adalah, masih adanya rasa gengsi bagi sebagian penduduk Indonesia untuk menjual barang bekas, termasuk membeli.

Anggapan bahwa menjual barang bekas terkait ada kekurangan secara keuangan masih kerap terlihat. Hal ini memang tak terjadi di semua segmen, namun segmen usia lebih tua biasanya punya rasa gengsi itu.

Masyarakat kelas A pun punya karakter mirip. Jadi, itu adalah tantangan bagi tiap pemain e-dagang dengan basis produk bekas. Justru pasar paling besar ada di segmen muda yang belum mengenal gengsi namun sudah akrab jual beli daring.

Untuk e-dagang sendiri, Aulia menilai industri ini sedang mengalami bubble melihat ukurannya dibanding ritel luring (offline). Maka, tak heran jika pemain-pemain e-dagang mulai dari konsep marketplace, ritel daring, iklan baris hingga penawaran harian yang menjual konsep redeem.

Namun, Aulia memperkirakan, pemain e-dagang sedikit demi sedikit mulai berguguran, entah gulung tikar, konsolidasi, hingga diakuisisi. Mulai pertengahan 2017 akan ada pemain yang menghilang, terutama untuk pemain besar.

Jadi, sudah pasti pemain-pemain di bawah kasta pemain besar akan segera menyusul kemudian karena kehabisan napas dan bisnisnya tak kunjung membesar.

"Tapi, potensinya tetap besar. Buktinya, dua dari tiga pemain dunia sudah masuk. Alibaba melalui Lazada dan eBay melalui Blanja.com. sedangkan Amazon tinggal menunggu waktu. Jadi, jika ada pemain e-dagang, terutama pemain luar negeri menghilang dari peredaran, bukan pasar yang salah. Tapi memang mereka punya pandangan lain soal lanskap bisnis Indonesia," papar Aulia.

Penghitungan pasar e-dagang di Indonesia memang masih dalam perkiraan. Pemerintah mencanangkan bisa mencapai US$ 130 miliar pada 2020. Jadi, kira-kira pada 2016-2017 nilainya sekitar US$ 50 juta hingga US$ 70 juta, dengan catatan industri tumbuh 30%-40% per tahun.