Belajar Banyak dari Redupnya Es Kepal Milo

Es Kepal Milo
Es Kepal Milo

Apa kabar es kepal milo? Pertanyaan ini sekaligus memberikan gambaran bagaimana fenomena bisnis musiman berjalan di Indonesia.

Dalam momen tertentu, satu makanan bisa saja begitu viral dan digemari masyarakat. Semua bahkan rela antre untuk mendapatkannya. Hal ini lantas mendorong orang lain untuk mencoba bisnis yang sama sehingga makanan atau minuman tersebut menjamur tak terkendali.

Di awal kemunculannya, popularitas minuman dengan bahan dasar batu es yang diserut kemudian diberikan susu merek Milo ini mengalahkan hidangan lain, terutama saat Ramadan. Jarak antar-penjualnya hanya puluhan meter.

Saking banyaknya pesaing, satu per satu yang kalah "enak" terpental dari pasaran. Mereka yang tak mampu berinovasi dan memasarkan produk dengan baik mundur perlahan. Padahal publik cepat bosan. Masyarakat terus ingin sesuatu yang baru.

Es kepal milo adalah satu dari sekian banyak contoh bisnis makanan yang bersinar lalu meredup dalam waktu singkat. Datang dari Malaysia—awalnya dipopulerkan pasangan suami istri Saed Lamin dan Shariah Hashim dari Kuala Kangsar—makanan segar ini dibawa ke Indonesia oleh pasangan pengusaha dari Yogyakarta bernama Danang Aryo Dempo dan Rara. Saat itu namanya masih ais kepal Jogja.

Lalu oleh para youtuber, blogger, dan vlogger, Ais (bahasa Melayu) yang disusun menyerupai kepalan tangan ini langsung diketahui orang banyak. Dengan kemasannya yang menarik membuat es kepal milo tak butuh waktu lama untuk dicintai.

Hanya saja, layaknya cappuccino cincau, usia es kepal milo tak berlangsung lama. Pakar Makanan Sisca Soewitomo mengatakan makanan kekinian memang susah sekali bertahan. Kalaupun bertahan mungkin hanya beberapa tahun saja.

Menurutnya, penjual es kepal ini jika ingin usahanya berkembang harusnya tidak berfokus pada kuantitas jualan dan omzet saja. Standar mutu harus ditingkatkan agar selalu dicari banyak orang. Selain itu, inovasi-inovasi juga perlu dilakukan agar orang tidak bosan.

Kuliner yang bertahan lama biasanya banyak dibutuhkan masyarakat dan tidak mengenal tren. Misalnya es buah. Sampai sekarang, buah asli tetap dicari karena pada dasarnya sesuatu yang orisinal jauh disukai masyarakat.