Jangan Hanya Gemar Koleksi Sepatu, Bisnisnya Juga Menggiurkan (1)

sepatu wanita
sepatu wanita

Sepatu memang tidak memiliki jenis kelamin. Namun, tak jarang wanita sering dikaitkan dengan sepatu. Sebab, tak sedikit wanita yang memiliki banyak koleksi sepatu. Sebagai anak muda yang cerdas, mengapa kamu tidak mengembangkan hobi tersebut menjadi bisnis yang lebih produktif dan menguntungkan.

Kamu bisa berbisnis dengan merancang sendiri sepatu. Asal unik, menarik dan memiliki harga yang tepat, pasti ada konsumen yang siap membelinya. Lihat saja Ningsih yang sudah berbisnis sepatu sejak 2014 lalu.

Awalnya, dari hobi mengoleksi sepatu sejak remaja dan sering kesulitan menemui model unik, membuat Ningsih memutuskan untuk berbisnis sepatu. Bermodal tabungan Rp50 juta, Ningsih pun mulai mewujudkan mimpinya.

Ningsih belajar membuat sepatu secara autodidak. Ia mengumpulkan banyak literasi dan referensi untuk menciptakan produk yang unik dan berbeda. Namun, Ningsih mengaku bahwa orangtuanya sempat menentang karena dinilai tidak punya pengalaman berbisnis.

“Orangtua saya ingin saya menjadi karyawan. Dengan keyakinan kuat, saya mulai mencari perajin sepatu. Setelah itu, mengumpulkan bahan baku dan mulai produksi. Saya utamakan detil produksi, seperti mengukur kerekatan serta ketahanan sepatu terhadap udara luar,” paparnya.

Saat berinovasi dengan produk kulit ikan, Ningsih belajar pada salah satu profesor di Institut Teknologi Bandung. Namun, saat praktek di rumah, Ningsih gagal karena tak menggunakan mesin. Meski demikian, Ningsih tak putus asa dan memutuskan untuk meminjam mesin.

Sepatu unik dan kreatif pun tercipta. Namun, ternyata kedua hal itu tak menjamin produknya mudah diterima pasar. Bahkan, sepatu buatan Ningsih pernah ditawar Rp50 ribu per pasang saat ikut pameran di lingkungan Istana Negara.

"Saya kesal karena mereka seakan tak menghargai kreativitas dan hasil karya," tutur Ningsih yang saat itu menjual sepatunya Rp350 ribu per pasang. Tak kunjung mendapat sambutan positif dari pasar, Ningsih meminta bantuan anggota Dewi-Dewi untuk mempromosikan sepatu kulit ikannya.

Nahasnya, respons konsumen lokal tak kunjung baik. Akhirnya, Ningsih menyasar konsumen dari luar negeri dengan mengikuti pameran skala internasional seperti di Meksiko dan Jerman. Pineapple Shoes pun akhirnya diterima dengan baik. Pesanan sepatu pun terus berdatangan.

“Kendala di awal usaha adalah karyawan yang tidak sanggup membuat sepatu dari kulit ikan. Bahan berukuran kecil butuh ketelitian dan ketelatenan ekstra untuk menciptakan lembaran kulit ikan siap pakai,” ungkap wanita 35 tahun itu dikutip Kontan.

Berlanjut ke bagian kedua untuk melihat kisah selanjutnya.