Membidik Untung dari Peluang Bisnis di Era Disrupsi

Peluang bisnis di era disrupsi
Peluang bisnis di era disrupsi

Membangun dan mengelola bisnis di era disrupsi dan industri 4.0 tidak mudah. Kamu harus memperhatikan berbagai tantangan yang tidak hanya terjadi pada industri bisnismu tetapi juga apa yang terjadi di industri global.

Perencana Keuangan Juwono Sudirgo memintamu untuk memperhatikan juga apa yang terjadi pascareferendum keluarnya Inggris dari Brexit, kebangkitan ekonomi di Asia, ekonomi hijau, pemanfaatan mesin yang menggantikan manusia, dan proteksionisme di Amerika Serikat. Selain itu, kamu juga harus memperhatikan tren leisure ekonomi, digital ekonomi dan ekonomi kreatif yang menjadi tren industri saat ini.

"Namun, peluangnya juga sangat menarik. Menurut World Bank dan AT Kearney, Indonesia adalah salah satu negara yang akan menikmati bonus demografi sebagai negara dengan porsi yang besar untuk penduduk usia produktif," sebut Juwono.

Penduduk usia produktif tersebut, kata Juwono, sering disebut sebagai generasi milenial (lahir antara tahun 1980-2000). Generasi ini, menurut Goldman Sachs Global Investment Research, adalah generasi yang memiliki karakter berbeda dengan generasi sebelumnya. Salah satunya adalah kebiasaan mereka untuk melakukan banyak hal melalui aplikasi yang ada di smartphone mereka.

"Perkembangan pengguna internet yang begitu besar di Indonesia juga membuat kita menjadi salah satu pengguna aktif media sosial. Hal lain lagi adalah masifnya perkembangan e-commerce yang jumlahnya sudah mencapai 8,7 juta penjual online pada 2016," papar dia.

Menghadapi tantangan bisnis tersebut, Juwono menyarankanmu untuk melakukan beberapa hal. Langkah terbaik adalah meningkatkan kualitas produk atau jasamu. Sebagai pebisnis, kamu juga harus meningkatkan kemampuan manajemen bisnis.

"Kamu juga bisa mempelajari banyak hal mengenai mengenai pemasaran digital untuk dapat mengetahui karakter dan kebutuhan pasarmu,"sarannya.

Apa yang lebih penting?

"Tingkatkan pendapatanmu dan selalu sisihkan minimal 20% untuk tabungan dan investasi," pungkas dia.