Mencari Cuan dengan Memadukan Kreativitas dan Kardus (2)

bisnis kardus
bisnis kardus

Pengusaha lainnya adalah Arief Susanto. Pria asal Surabaya ini merintis dan mendirikan Dus Duk Duk sejak 2013 lalu. Arief mengaku, awal mula ia menggeluti bisnis ini adalah untuk mengikuti pekan kreativitas mahasiswa (PKM) di kampusnya, Institut Sepuluh November (ITS).

Bahan kardus ia pilih karena termasuk produk ramah lingkungan dan bisa diolah menjadi produk dekorasi seperti tempat duduk. Ini ide awal nama merek Dus Duk Duk. Dus Duk Duk sendiri tak hanya memroduksi dekorasi, juga produk untuk interior rumah.

Menurut Arief, di luar negeri olahan kardus digunakan untuk pembuatan perahu, rumah hingga kebutuhan arsitektur. Peluang usaha inilah yang dilihat Dus Duk Duk. Arief mengaku mengembangkan ide pembuatan produk kreatif kardus secara otodidak.

Dus Duk Duk memroduksi dua jenis produk, produk yang diproduksi masal seperti kursi kardus yang bisa dibuat 10 unit per hari dan produk sesuai desain konsumen. Untuk harga, tergantung banyak bahan dan tingkat kesulitan desain.

"Harga custom design mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta. Rata-rata pengerjaan selama dua minggu. Karena itu, sepanjang 2017, omzet kami mencapai miliaran rupiah," kata Arief. Arief mengaku, tiap bulan Dus Duk Duk mampu mengolah hampir 500 lembar kardus ukuran 120 cm x 240 cm.

Proyek bulanan kebanyakan datang dari Bandung, Jakarta dan Bogor. Pada 2019, Dus Dus Duk berencana membuka workshop di sekitar Jakarta. Pada 2018 ini, Arief mengaku Dus Duk Duk berencana menjajaki berbagai pasar lain seperti Sumatera.

Sedangkan untuk omzet di tahun ini, Dus Duk Duk menargetkan bisa meraup dua kali lipat omzet 2017. Arief dan tim mengaku semakin percaya diri pada kelangsungan bisnisnya seiring kesadaran masyarakat akan nilai dari produk olahan kardus.

"Tak hanya bernilai ramah lingkungan, juga bernilai bisnis yang bisa berkembang," katanya. Untuk pemasaran, Dus Duk Duk melakukannya secara masif melalui media sosial @dusdukduk dan situs dusdukduk.com.