Mengecap Manisnya Bisnis 'Bubble Tea' untuk Pasar Indonesia (1)

bubble tea
bubble tea

Kopi dan teh adalah dua jenis minuman yang bisa ditemui di hampir semua rumah makan di Indonesia. Seiring waktu, kedua jenis minuman tersebut juga mengalami perkembangan, tak hanya sekadar kopi dan teh yang bisa diseduh di rumah.

Untuk kopi saja sekarang sudah mengarah ke arah 'artisan'. Ada seni dalam menyeduh kopi. Lain kopi, lain teh. Jenis minuman ini juga mengalami perkembangan yang cukup menarik.

Hampir di tiap mal, kamu bisa menemukan minuman teh dengan boba atau bubble tea. Evoluasi minuman tersebut adalah bentuk inovasi untuk mempertahankan daya saing di pasar.

Teh boba sendiri lebih menyasar milenial yang senang dengan minuman yang nyeleneh dengan pilihan rasa yang beragam. Racikan teh ini dicampur susu dan ditambah sirup serta topping seperti boba (bola tapioka), cincau, agar, rumput laut, dan lainnya.

Nama 'bubble' juga bukan merujuk pada topping, melainkan buih susu hasil kocokan. Sebagai informasi, minuman ini populer di Taiwan dan berkembang sejak 1980an.

Meski para pemain di bisnis kopi juga semakin banyak, di pasar Indonesia, para pemain di bisnis bubble tea juga semakin menampakkan eksistensi. Sebut saja ChaTime. Merek ini memiliki lebih dari 2.000 gerai di seluruh dunia.

Perusahaan ini bahkan terdaftar di bursa saham Taiwan (melalui perusahaan induk La Kaffa) dengan kapitalisasi pasar US$71,5 juta. Pemain besar lainnya, Gong Cha dengan lebih dari 1.000 toko dan membuka lebih dari seratus gerai baru per tahun.

Adapula CoCo Fresh yang cukup berkembang di pasar Afrika Selatan, Asia, dan Amerika Utara. Satu lagi, pemain lawas lain adalah Sharetea yang berdiri sejak 1992 dan sudah mengembangkan bisnis di 18 negara dengan 450 gerai di Australia, Macau, Filipina, Amerika Serikat, Dubai, Hong Kong, dan Indonesia.

Di Indonesia, Sharetea pertama kali muncul pada 2012 di Paza Semanggi, Jakarta, lewat tangan master waralaba PT Prime Restaurant Indonesia. Sang pemilik waralaba itu pun bertekad mengembangkan Shareta hingga 500 gerai dalam lima tahun ke depan.

Berlanjut ke bagian kedua untuk mengetahui manisnya peluang bubble tea.