Menggali Peluang Bisnis Sebagai Kiblat Wisata Muslim Dunia (1)

liburan
liburan

Jumlah pemeluk agama Islam di dunia memang tidak sedikit. Hal ini terbukti dari jumlah wisatawan muslim dari berbagai negara yang terus bertambah, termasuk dari Indonesia. Bahkan, kini banyak negara yang mulai sibuk menyediakan fasilitas untuk untuk wisatawan muslim.

Fakta tersebut tentu akan mencetak banyak peluang bisnis. Apalagi, faktanya, jumlah wisatawan muslim terus tumbuh. Pada 2000, wisatawan muslim hanya sekitar 25 juta secara global. Pada 2017, jumlah itu sudah bertambah menjadi 131 juta dan diperkirakan meningkat hingga 156 juta pada 2020.

Menurut catatan Mastercard-Halal Trip Muslim Millenial Travel Report 2017 (MMTR2017), perjalanan wisatawan muslim anak muda (milenial) di dunia diperkirakan akan terus tumbuh hingga mencapai nilai US$100 miliar pada 2025.

Sementara itu, secara keseluruhan, segmen perjalanan muslim diperkirakan akan mencapai US$300 miliar di 2026. Sedangkan data Word Travel and Tourism Council 2013 menunjukkan, nilai transaksi dari segmen wisata muslim sudah mencapai US$140 miliar dan diperkirakan menjadi US$238 miliar di 2019.

Pendiri & Chairman Indonesia Islamic Travel Communication Forum (IITCF) Priyadi Abadi bilang, sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, Indonesia bisa lebih maju dibanding negara lain. "Jangan sampai tertinggal. Indonesia berpotensi menjadi kiblat wisata halal dunia," ujarnya pada Kontan.

Selain mengedukasi masyarakat di bidang pariwisata, IITCF juga merintis terobosan untuk menyatukan produk travel muslim melalui konsorsium. Tujuannya, memberi layanan pada wisatawan muslim yang ingin pelesir dengan konsep islami ke luar negeri, Muslim Holiday Konsorsium.

Saat ini, sudah ada 20 perusahaan perjalanan bergabung konsorsium itu dengan fokus berbagi destinasi, evaluasi dan problem solving. Dari sisi sumber daya manusia, Indonesia punya jumlah penduduk yang besar namun secara kualitas masih rendah.

Dibanding Malaysia yang penduduknya tidak begitu besar, wisata muslim di negara itu berkembang pesat karena dukungan SDM berkualitas. Lahirnya konsorsium tersebut, kata Priyadi, adalah bentuk keprihatinan karena penggarap pasar wisata muslim tanah air masih sedikit akibat terbatasnya SDM.

Hal ini akibat mayoritas travel muslim masih bermain di zona aman, yakni menggarap pasar haji dan umrah. Bahkan, kurang dari 20% yang menggarap pasar wisata muslim. Akibatnya, pasar wisata muslim yang prospektif dan potensial ini masih dipegang travel umum.

Berlanjut ke bagian kedua untuk kisah lebih lanjut.

MORE FROM MY SITE