Menggali Peluang Bisnis Sebagai Kiblat Wisata Muslim Dunia (2)

liburan
liburan

Priyadi bilang, saat ini pihaknya memiliki dua agenda besar melalui IITCF yang peduli pada edukasi, berbagi dan bersinergi antarsesama travel muslim, khususnya untuk menggarap wisata muslim. Selain itu, ada pelatihan wisata muslim (edutrip) di dalam maupun luar negeri yang rutin.

Edutrip diikuti para pemilik travel muslim, tour leader maupun tour planner. Sedangkan Muslim Holiday Konsorsium membuat paket tur muslim dijual secara bersama sehingga lebih efisien dan bisa saling membesarkan pemain yang tergabung konsorsium.

"Muslim Holiday Konsorsium ingin menjadi rumah bersama menuju sukses bagi pemilik travel muslim. Konsorsium ini berupaya netral dan memberi solusi bagi anggota yang kesulitan memenuhi kuota," tuturnya.

Tentu, untuk bergabung konsorsium, ada aturan main atau komitmen bersama. “Salah satu yang terpenting adalah harga jual harus sama. Tidak boleh ada yang lebih murah atau lebih mahal dari harga yang sudah ditetapkan konsorsium. Intinya, semua travel muslim yang bergabung harus amanah,” katanya.

Sekretaris Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal, Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Tazbir mengimbau, para travel muslim yang tergabung Muslim Holiday Konsorsium tidak hanya semangat menjual paket wisata muslim, juga paket wisata halal dalam negeri untuk menjaring wisatawan mancanegara (wisman) muslim ke Tanah Air.

Semangat berbinisnya, lanjut Tazbir, harus diimbangi rasa nasionalis. “Misalnya, kalau bertemu mitra di luar negeri, bisa sekalian promosi kalau Indonesia adalah negara muslim terbesar dan punya destinasi serta produk wisata halal yang bagus serta ada paket wisata halal di Indonesia,” imbau Tazbir.

Tazbir menambahkan, semua pemangku kepentingan di industri pariwisata muslim harus serius menggarap potensi besar ini, dan jangan malu belajar dari keberhasilan Malaysia. Di negara itu, pemerintah dan swasta memberi perhatian besar pada pengembangan wisata muslim.

Tak cuma dari sisi pelancong, juga terkait produk seperti kuliner. "Jangan sampai produknya juga diambil pihak luar. Contoh, coklat halal banyak dari Thailand dan Malaysia. Jadi memang butuh komitmen dari industri halal dan lainnya," ungkap Tazbir.

Pada akhirnya, jangan sampai peringkat Indonesia terus dibawah Malaysia dalam hal wisata halal jika merujuk Muslim Travel Index (GMTI) yang dirilis April lalu. Berdasarkan riset sekaligus penilaian dari Global Muslim Travel Index (GMTI) yang dirilis oleh Mastercard-CrescentRating, Indonesia masuk peringkat kedua sebagai tujuan wisata muslim dunia pada 2018.