Menjajal Peluang Bisnis Kuliner Ala Meksiko

kuliner meksiko
kuliner meksiko

Salah satu jenis bisnis yang akan terus memiliki konsumen adalah bisnis kuliner. Namun, agar dapat diterima, kamu harus menawarkan kuliner yang unik dan memberikan pilihan baru bagi konsumen. Salah satu yang bisa kamu coba adalah kuliner Meksiko.

Bila kamu tidak tahu mengenai masakan ala Meksiko, waralaba bisa menjadi solusinya. Apalagi, peluangnya pun masih besar di Indonesia. Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Supit pun melihat bisnis kuliner ala Meksiko punya potensi bisnis.

Potensi ini terutama di kota besar yang sudah bisa menerima cita rasa ala Meksiko. Apalagi pemain di bisnis kuliner ini belum banyak. Namun, Levita berharap pihak pusat mau membuka diri perihal proyeksi omzet supaya menjadi pertimbangan investor.

"Kalau tidak menguntungkan, buat apa bisnis," kata dia. Salah satu waralaba yang bisa menjadi pilihan adalah Tacozhen milik Edward. Edward mendirikan Tacozhen pada 2015 dan kini sudah memiliki tiga gerai di Semarang dan Medan.

"Kami restoran Meksiko lokal pertama dan menawarkan franchise syariah yang tak memberatkan mitra," katanya dikutip Kontan. Edward menawarkan dua paket waralaba, paket minimalis Rp50 juta dan paket restoran Rp300 juta.

Dari waralaba itu, mitra bisa mendapat beragam fasilitas. Namun, biaya tersebut belum termasuk peralatan usaha, renovasi interior dan biaya sewa lokasi. Khusus paket resto, mitra punya wewenang menjadi distributor bahan baku bagi mitra paket minimalis di wilayah kota masing-masing.

Edward pun tak mempersoalkan konsep gerai, juga peralatan usaha yang dipakai. "Kami serahkan pada mitra," katanya. Perbedaan paket minimalis dan resto terletak pada luas gerai dan kelengkapan menu.

Menu Tacozhen sendiri seperti chicken taco, beef taco, vegetarian taco, nachos premium chicken, dan lainnya dengan harga Rp23-50 ribu per porsi. "Menu Tacozhen halal, bebas MSG dan bahan kimia karena homemade," katanya.

Soal omzet, Edward menyebut antara Rp50-80 juta per bulan untuk paket minimalis dan lebih besar untuk paket resto. Besar omzet juga tergantung lokasi usaha. Sedangkan biaya mitra, pihak pusat tidak menarik royalti.

Namun, mitra wajib membeli semua bahan baku dari pusat. Meski demikian, Edward bilang, mitra cukup mengeluarkan 5%-10% dari omzet untuk bahan baku.

“Sedangkan bisnis kuliner lainnya bisa 40%,” katanya. Dus, Edward optimistis mitra bisa balik modal dalam 10 bulan sampai dua tahun.

Tertarik?