Siapa Bilang Bisnis Perhiasan Butuh Modal Besar?

Bisnis Perhiasan
Bisnis Perhiasan

Baik wanita maupun pria, mereka pasti memiliki perhiasan masing-masing. Meski demikian, perhiasan memang cenderung lebih dekat dengan wanita. Bila kamu juga melirik pasar ini, kisah pendiri Adina's Jewels ini bisa menjadi inspirasi.

Adina Kamkhatchi merintis bisnis perhiasannya sejak kuliah. Bisnis tersebut ia rintis karena ia merasa harga perhiasan terlalu mahal sehingga bila ingin memilikinya, ia harus membuatnya sendiri.

Begitu lulus dari Brooklyn College di usia 22 tahun, Adina pun menggunakan tabungan US$1.000 yang ia miliki sebagai modal. Ia membeli mutiara, batu, kulit dan lainnya. Kemudian, Adina menggunakan dapur rumah orang tuanya sebagai pusat produksi.

Setelah jadi, Adina memasarkan perhiasannya dengan metode door to door. Pada tiga bulan kemudian, Adina merasa butuh lebih banyak konsumen. Kemudian, ia bekerja sama sebuah toko pakaian renang lokal untuk memajang perhiasan yang ia buat.

Seperti diketahui, bisnis pakaian renang sangat tergantung musim sehingga penjualan perhiasan tidak terdongkrak. Pantang menyerah, Adina kemudian menggandeng sebuah salon rambut sebagai saluran distribusi.

"Saluran penjualan melalui salon memang sesuai karena mereka sudah memiliki banyak konsumen. Penjualan perhiasan pun terdongkrak di sepanjang tahun," kata Adina dikutip CNN.

Empat tahun kemudian, Adina's Jewels sudah menjadi perusahaan bernilai jutaan dollar. Akun Instagram toko perhiasan ini sudah memiliki 140 ribu follower. Adina juga sudah memiliki toko di Brooklyn dan sudah menjual lebih dari 600 model perhiasan.

Beberapa artis seperti Ariana Grande, Emily Ratajkowski dan Bell-Gigi Hadid juga menggunakan perhiasan Adina. Meski begitu, produk perhiasan yang dijual Adina tidak pernah berubah sejak empat tahun lalu.

Baik kalung, cincin dan gelang perak yang dijualnya tetap menawarkan harga yang murah, US$50-250.

"Saya ingin orang-orang, khususnya yang tidak punya uang banyak tetap bisa membeli dan mengenakan perhiasan bagus," kata Adina yang hingga kini masih merancang perhiasannya sendiri.

Untuk lebih mengembangkan bisnis, Adina menjadikan kakaknya, Mayer Kamkhatci, sebagai rekan kerja. Kepada CNN, Mayer bercerita bahwa dia dan Adina belajar banyak hal dari Youtube.

"Kami juga mendapat banyak masukan dari fashion blogger atau fashion influencer di media sosial. Mereka menyukai dan membicarakan produk kami," kata Mayer. Strategi pemasaran Adina's Jewels di media sosial adalah snowball effect.

"Seperti mereka melihat Ariana Grande mengenakan cincin kami. Kemudian mereka ingin membeli dan memakainya," tambah dia. Produk Adina tersebut, katanya, disukai wanita usia 18-34 tahun.

Kakak beradik ini bahu membahu membesarkan Adina's Jewels. Mayer menangani bisnis harian termasuk operasional dan penjualan. Sedangkan Adina fokus pada desain produk dan relasi konsumen.

"Kami merasa beruntung memulai usaha di usia muda dan mendapat dukungan penuh dari keluarga. Ibu kami selalu bilang, jangan bekerja untuk orang lain. Jadilah bos bagi diri sendiri dan selalu tulis sendiri gaji," kata Adina.

Dalam hal keuangan, kakak-beradik ini juga mengelolanya sendiri. Bagi mereka, menjalankan tiap detil usaha masih menjadi cara terbaik.

"Orang tua kami memberi segalanya. Seringkali, saya meminta masukan pada Ayah sembari mengobrol di malam hari. Mereka selalu ada untuk membantu," pungkasnya.