Suka Pelesir? Jadikan Saja Hobi Itu Sebagai Profesi (1)

pelesir
pelesir

Berlibur untuk mengunjungi tempat baru memang menyenangkan. Pengalaman baru ketika berlibur membuat banyak orang selalu ingin kembali berlibur. Bila kamu adalah salah satu orang yang gemar liburan, mengapa tidak membuat hobi itu sebagai sumber pendapatan baru.

Profesi sebagai pengatur perjalanan atau pemandu wisata sangat potensial saat ini. Apalagi, anak muda masa kini tak segan mengeluarkan uang untuk bisa mengunjungi tempat-tempat baru yang belum pernah mereka datangi.

Di tempat baru, para wisatawan bisa melihat budaya, menyantap kuliner, hingga mengunjungi atraksi yang ada. Berawal dari hobi pelesir dan berkemah sejak SMA, Whim Trispandy asal Batu, Jawa Timur menjadi seorang pemandu tur lepas profesional sejak 2009.

Di awal menjadi pemandu tur lepas, Whim mengaku tak mematok tarif khusus. Ketika sertifikasi sudah didapat, Whim baru menentukan tarif. "Dulu, saya masih belajar, kalau ada pelanggan, mereka bayar seikhlasnya saja," katanya kepada Kontan.

Bagi Whim, kunci utama menjadi pemandu tur profesional adalah pelayanan terbaik yang memuaskan pelanggan. Untuk itu, Whim pun belajar budaya, sejarah dan kondisi geografis suatu tujuan wisata. Bekal itu sangat penting bagi pemandu tur, terlebih lagi kondisi lapangan kerap tak bisa ditebak.

"Banyak tour guide bisa mengantar dan bercerita pada wisatawan, tapi sedikit yang bisa bertahan. Padahal tugas kami tak hanya menemani dan mengantar wisatawan, juga mengambil keputusan dan memberi solusi dalam kondisi darurat," ungkapnya.

Pengalaman hampir 10 tahun membuat Whim sudah menguasai semua tempat wisata di Jawa Timur dan beberapa lokasi wisata di Lombok. Namun, Whim mengaku terus belajar dan memperbarui informasi tempat wisata yang menjadi incaran wisatawan.

"Saya spesialis Malang, Batu, Jawa Timur dan sekitarnya. Lombok juga," ujarnya. Selain sebagai pemandu tur, Whim juga kerap diajak kerja sama biro perjalanan. "Biro perjalanan jarang yang punya tour guide profesional, mereka hanya mengantar tamu sampai tujuan saja," ujarnya.

Soal tarif, Whim mengungkap, standar tarif di Malang dan sekitar Rp300-400 ribu per hari untuk wisatawan lokal dan Rp750 ribu untuk wisatawan asing. "Booking minimal seminggu sebelumnya. Tapi, saat musim libur, bisa sebulan sebelumnya. Bahkan, turis asing booking bisa tiga sampai lima bulan sebelumnya," katanya.

Selain Whim, Imam Ramadhan juga melakukan hal yang sama. Imam senang menjelajah laut Indonesia. Meski sudah menjalani profesi ini selama dua tahun, Imam mengaku baru serius terjun ke bidang ini delapan bulan lalu.

Berlanjut ke bagian kedua untuk mengetahui kisah Imam selanjutnya.