3 Pertanyaan dan 3 Jawaban dari 3 Perencana Keuangan Soal Pesangon PHK

Ini kata perencana keuangan soal uang pesangon PHk sebaiknya digunakan untuk apa.
Ini kata perencana keuangan soal uang pesangon PHk sebaiknya digunakan untuk apa.

Tak sedikit orang bingung saat mendapatkan uang pesangon PHK. Ada yang untuk menutupi kebutuhan selama tidak ada penghasilan, ada yang untuk hura-hura demi mengobati sakit hatinya, dan masih banyak lagi.

Sebab sejatinya, uang pesangon memang bisa digunakan untuk apa saja. Namun jumlahnya yang relatif besar kadang mudah membuat orang terlena. Padahal jika tanpa perencanaan, bukan tidak mungkin uang pesangon akan habis begitu saja.

Nah, agar hal itu tidak terjadi pada kamu, simak yuk saran dari 3 perencana keuangan berikut ini:

1. Boleh untuk Investasi?

Perencana keuangan Andy Nugroho mengatakan jangan habiskan semua uang pesangon kamu untuk investasi. Setidaknya, porsi yang diinvestasikan tidak lebih dari 70%.

Andy mengingatkan, potensi keuntungan investasi itu sama dengan risikonya. Artinya, jika alokasi investasi kamu 70%, maka potensi keuntungan dan risikonya juga 70%.

Untuk pemula, kamu bisa menggunakannya mulai dari 25% dulu. Sambil belajar, kamu bisa menambahkan alokasinya secara bertahap.

"Tempatkan investasi di instrumen yang lebih aman dan kemungkinan dananya habis lebih kecil, misalnya deposito, reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, ataupun obligasi ritel.

2. Boleh untuk Melunasi Utang?

Perencana Keuangan dari Oneshildt, Budi Raharjo mengimbau untuk tidak tergesa-gesa melunasi utang dengan uang pesangon. Menurutnya, belum tentu hal itu jadi jalan terbaik untuk meringankan beban kamu setelah di-PHK.

"Lebih baik jangan melunasi utang dulu daripada membuat kamu berutang lagi," kata Budi.

Lain hal bila kamu berutang cicilan kendaraan. Kamu bisa menggunakan pesangon untuk melunasinya, kemudian menjual kendaraan tersebut.

3. Boleh untuk Modal Usaha?

Perencana Keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto mengingatkan untuk berhati-hati bila ingin menggunakan uang pesangon PHK untuk modal usaha.

"Saran saya gunakan secara bertahap. Misalnya 10 persen modal awal, kalau berkembang ditambah jadi 30 persen, kemudian bila besar lagi tambah modal jadi 60 persen," ujarnya.

Hal ini demi menekan risiko bisnis tidak berkembang. Apalagi kita tahu bahwa tidak semua bisnis berjalan mulus pada tahap awal. Setidaknya, siapkan diri pada skema terburuk apabila bisnis gagal.

"Mereka juga harus tahu buka bisnisnya, bisnis apa. Biasanya ada tiga jalur yang mereka bisa pilih. Pertama, menekuni bisnis yang merupakan hobi atau mendekati kegemaran. Kedua, pilih bidang usaha sesuai dengan keahlian yang dipelajari selama bekerja di kantor. Apabila tidak memiliki hobi dan keahlian, pilih bisnis yang terbukti sukses serta banyak diburu pelanggan,"jelasnya.

Eko menjelaskan indikator bisnis berjalan lancar adalah apabila dalam tiga bulan sudah mencapai Break Even Point (BEP) dana operasional. Dengan begitu, kamu baru boleh untuk menambah alokasi modal.

"Kalau tiga bulan sudah bisa memenuhi biaya operasional, bararti bisnis itu sudah di jalan yang benar. Bukan untung ya, kita belum bicara untung, tapi minimal biaya operasional tertutup," jelasnya.

Sisihkan Uang

Namun sebelum mengalokasikan uang pesangon PHK, tentunya sisihkan terlebih dahulu untuk kebutuhan hidup selama setahun. Jadi misalnya dalam sebulan kebutuhan kamu Rp4 juta, maka sisihkan uang pesangon sekitar Rp48 juta.

Bila uang pesangon yang diterima masih kecil karena masa kerja kamu baru sebentar, kamu bisa menyisihkannya untuk kebutuhan selama 6 bulan saja. Dengan catatan, kamu harus segera mendapatkan pekerjaan baru untuk menutupi kebutuhan berikutnya.

Yuk semangat lagi. Dunia belum berakhir dan sekaranglah saatnya mencoba petualangan baru.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.